Find and Follow Us

Minggu, 26 Januari 2020 | 18:19 WIB

Penyakit Kritis di Indonesia Kian Berkembang

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Senin, 13 Januari 2020 | 12:10 WIB
Penyakit Kritis di Indonesia Kian Berkembang
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Penyakit kritis kini kian berkembang. Hal ini menanggung beban ekonomi yang cukup tinggi di rumah tangga.

dr. Laurentius Aswin Pramono, Sp.PD, M. Epid, seorang internis dan yang mendalami epidemiologi klinis memaparkan, permasalahan kesehatan dewasa ini makin nyata dan sangat mengancam sehingga masyarakat harus selalu bersiap dan waspada.

Secara global, World Health Organization (WHO) mengkategorikan permasalahan kesehatan hingga mencapai 68.000 jenis. Indonesia pun tak lepas dari bahaya kesehatan tersebut dan kita harus terus siaga terhadap kemunculan penyakit-penyakit baru. Para ahli memperkirakan lima penyakit baru pada manusia muncul tiap tahun, tiga diantaranya bersumber dari binatang.

dr. Aswin juga mengingatkan bahwa penyakit kritis dapat menyerang siapa saja dan sebaiknya masyarakat tidak terpaku menghindari hanya suatu penyakit tertentu.

"Berbagai permasalahan kesehatan dapat terus bertambah akibat banyak faktor, seperti lifestyle, globalisasi hingga perubahan iklim. Masyarakat perlu mengantisipasi ancaman penyakit kritis ini dengan mengubah gaya hidup mereka dan lebih menyadari mahalnya kesehatan," kata Aswin, Jakarta, Senin, (13/01/2020).

Penyakit kritis dapat berimplikasi pada aspek psikologis, sosial hingga finansial yang dapat menggoyahkan stabilitas ekonomi dan masa depan keluarga. Lebih lanjut, penyakit kritis tidak hanya menimbulkan beban keuangan berupa biaya rumah sakit, namun juga biaya hidup.

Sebagai contoh, suatu penelitian menyebutkan 83 persen pasien Multidrug-Resistant Tuberculosis dari berbagai pusat kesehatan di Indonesia mengalami dampak katastropik terhadap keuangan rumah tangga akibat penyakitnya.

"Dalam rentang waktu enam bulan setelah didiagnosis, 86 persen kehilangan pendapatan, 32 persen harus meminjam uang dan 18 persen dari mereka mengakui menjual properti untuk menutupi pengeluaran," tambahnya. (tka)

Komentar

x