Find and Follow Us

Minggu, 26 Januari 2020 | 18:19 WIB

Hidup Bermasyarakat dengan Penderita Infeksi HIV

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Rabu, 4 Desember 2019 | 13:55 WIB
Hidup Bermasyarakat dengan Penderita Infeksi HIV
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Infeksi HIV merupakan masalah kesehatan global. Di tahun 2016, Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan terdapat sekitar 1 juta penderita HIV meninggal di seluruh dunia.

Berdasarkan data yang didapatkan dari UNAIDS (United Nations Program on HIV/AIDS) di tahun 2016, terdapat sekitar 620.000 penderita infeksi HIV (ODHIV) di Indonesia. 3200 kasus terjadi pada anak-anak, dan angka kematian akibat penyakit ini mencapai 40.000 kasus. Siapa pun dapat berisiko terkena HIV, oleh karena itu penanganan serta pencegahan persebaran penyakit ini harus bermula dari dukungan dan pemahaman terhadap ODHIV.

"Diskriminasi dan Stigma terhadap ODHIV kerap terjadi. Tidak hanya berusaha untuk tetap hidup sehat, ODHIV menghadapi tantangan lain yang tidak kalah berat: stigma dan diskriminasi. Tidak sedikit ODHIV yang kehilangan pekerjaan, ditolak oleh keluarga dan teman-temannya, atau bahkan menjadi korban kekerasan. Data dari UNAIDS menyebutkan bahwa 62,8 persen masyarakat di Indonesia enggan berinteraksi dengan ODHIV," kata dr. Kevin Adrian selaku dokter dari ALODOKTER, Jakarta, Rabu, (04/12/2019).

Ada beberapa hal yang melatarbelakangi stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV, yaitu:

HIV adalah penyakit yang ditakuti, namun tidak sepenuhnya dipahami oleh banyak orang. Sebagian orang masih memercayai hal yang salah, bahwa HIV dapat menyebar melalui kontak fisik seperti bersentuhan atau sebatas berbagi gelas. Hal ini membuat ODHIV cenderung dijauhi.

HIV dan AIDS sering diidentikkan dengan pelaku perilaku tertentu seperti pengguna obat terlarang dan pelaku seks bebas. Stigma ini membuat orang beranggapan bahwa virus tersebut diidap karena lemahnya moral ODHIV.

Dengan stigma sosial, muncullah diskriminasi terhadap ODHIV, seperti dikeluarkan dari kantor atau sekolah karena mengungkapkan diri sebagai ODHIV atau tidak diperkenankan menggunakan fasilitas umum seperti tempat ibadah.

Pemerintah dan profesional medis tentunya berperan penting dalam mengurangi stigma masyarakat umum terhadap ODHIV. Edukasi mengenai ODHIV dapat meningkatkan pengertian masyarakat tentang penyakit ini.(tka)

Komentar

x