Find and Follow Us

Minggu, 19 Januari 2020 | 17:26 WIB

Anak jadi Selebgram, Apakah Baik?

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Selasa, 3 Desember 2019 | 13:57 WIB
Anak jadi Selebgram, Apakah Baik?
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Selebgram anak kerap meraup pundi - pundi rupiah. Apakah hal tersebut menjadi salah satu yang baik?

Tingkahnya yang lucu nan menggemaskan di media sosial, khususnya Instagram membuat selebgram anak menyita perhatian banyak orang. Tak mengherankan pula jika selebgram anak memiliki banyak pengikut atau followers di media sosial dan kerap kali mendapat banyak tawaran endorsement.

Alhasil, anak pun sudah bisa menjaring pundi-pundi rupiah atau memiliki penghasilan sendiri di usia dini. Meski begitu, orang tua tentunya tidak boleh memaksa anak untuk melakukan endorsement karena hal tersebut bisa mendekatkan anak dengan eksploitasi.

Lantas, bagaimana pandangan ahli mengenai selebgram anak dan eksploitasi? Benarkah menjadikan anak sebagai selebgram dapat dikatakan sebagai eksploitasi? Apa sajakah dampak psikologis menjadikan anak sebagai selebgram?

Perlukah Orang Tua Membuatkan Media Sosial untuk Anak?

Seperti yang diketahui, Instagram merupakan salah satu media sosial yang banyak digunakan saat ini. Hal inilah yang membuat banyak orang menggunakan atau memanfaatkan Instagram untuk menjadi populer dan dikenal sebagai selebriti Instagram (selebgram).

Pada era digital seperti saat ini, siapapun bisa terkenal atau menjadi selebgram tanpa mengenal usia.

Tidak hanya orang dewasa, anak pun bisa menjadi selebgram. Meski begitu, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Teman Bumil selama sepekan dan diikuti oleh 400 responden, 84,4 persen orang tua tidak merasa perlu membuatkan akun media sosial untuk anak.

Selain itu, 80,7 persen orang tua juga tidak ingin anaknya menjadi selebgram. Adapun beberapa alasan orang tua yang tidak ingin anaknya menjadi selebgram di antaranya takut mengganggu tumbuh kembang dan privasi anak, khawatir terjadinya kejahatan pada anak, hingga tidak ingin memaksa atau mengeksploitasi anak.

Menanggapi hal tersebut, menurut Psikolog Denrich Suryadi, pada dasarnya anak tidak memahami konsekuensi mengenai dunia media sosial, terlebih pada usia dini.

"Anak mungkin awalnya memiliki kegemaran untuk tampil, punya rasa percaya diri sehingga berani untuk tampil," ungkap Denrich, seperti yang dikutip dari siaran pers Teman Bumil, Jakarta, Selasa, (03/12/2019).

Denrich menambahkan, membagikan aktivitas anak atau hal-hal lain seputar anak di media sosial sebenarnya sah-sah saja, namun yang perlu diperhatikan ada juga dampak negatif publisitas yang bisa berisiko pada anak nantinya.

"Anak yang masih berusia dini (0-10 tahun) tidak seharusnya memiliki akun media sosial sendiri karena anak belum memahami konsekuensinya," jelasnya.

Sehingga, menurut Denrich, seluruh risiko tersebut sepenuhnya harus ditanggung orang tua yang mengelola akun media sosial anak.

"Kembali lagi, dampaknya dapat berimbas pada anak, apalagi jika anak nantinya tidak ingin profilnya sebenarnya disebarluaskan di media sosial," tambahnya. (tka)

Komentar

x