Find and Follow Us

Senin, 16 Desember 2019 | 19:44 WIB

Pengelolaan Sampah Buruk Berdampak Pada Kesehatan

Jumat, 22 November 2019 | 22:00 WIB
Pengelolaan Sampah Buruk Berdampak Pada Kesehatan
istimewa
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Pengelolaan sampah di Indonesia perlu dipacu secara cepat dan tepat mengingat volume sampah yang dihasilkan masyarakat di kota-kota besar meningkat pesat setiap harinya. Hal ini berdampak buruk bagi lingkungan hidup dan kesehatan.

Ketua Indonesia Solid Waste Association (InSWA) Sri Bebassari mengatakan, penanganan masalah sampah berkaitan erat dengan masalah lingkungan hidup. Jika kondisi lingkungan bersih dan sehat maka akan berdampak pada kesehatan masyarakat. Jika masyarakat sehat maka anggaran untuk sektor kesehatan juga menjadi berkurang.

Pengelolaan sampah menurut Sri harus dilihat sebagai suatu kedaruratan. Hal itu mengacu dari problem sampah di kota besar seperti Bandung dan tertutupnya permukaan kali di kawasan Bekasi, Jawa Barat. Begitu juga di Jakarta dimana sampah masih menjadi penyebab utama masalah banjir.

Sri menambahkan, jika biaya untuk penanganan masalah sampah cukup tinggi hal ini juga berlaku di negara-negara maju dalam menerapkan pengelolaan sampah. Perhitungan dana yang dibutuhkan bergantung pada volume sampah yang akan diolah dan teknologi yang diterapkan.

Untuk mengatasi tingginya biaya pengelolaan sampah, dia merujuk kebijakan yang dilakukan negara-negara seperti Singapura dan Jepang, dimana warganya membayar iuran untuk pengelolaan sampah.

"Di Singapura, satu rumah tangga membayar sekitar Rp 200 ribu setiap bulan, maka tidak heran sampah bisa dikelola dengan sangat baik. Hal ini juga bisa diterapkan di kota-kota besar di Indonesia," kata Sri melalui keterangan tertulisnya, Jumat (22/11/2019).

Keberhasilan penanganan masalah sampah menurut perempuan sudah puluhan tahun bergelut dengan masalah sampah ini juga akan berdampak positif bagi sektor lainnya. Efek yang ditimbulkan adalah hasil pengelolaan sampah itu bisa dijadikan bahan bakar bagi pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSA) dan kompos untuk kegiatan pertanian dan perkebunan.

"Jadi, benefit yang ditimbulkan dari pengelolaan limbah sampah juga bisa dirasakan sektor lainnya," imbuhnya.

PLTSA dinilai cocok untuk diterapkan di Indonesia sebagai salah satu alternatif sumber energi. Hal ini sesuai dengan langkah pemerintah dalam mencari sumber energi terbarukan guna menjadi alternatif dari penggunaan sumber energi yang selama ini sebagian besar berasal dari minyak bumi.

Sri menuturkan, saat ini PLN gencar kampanye EcoMoving yaitu perubahan gaya hidup dalam penggunaan alat transportasi salah satunya mendorong masyarakat menggunakan transportasi masal yang menggunakan green energy seperti MRT (Mass Rapid Transport),KRL (Kereta Listrik), LRT (Light Rail Transit), juga kendaraan yang berbahan bakar energy green.

Berkaitan dengan itu, Sri menjelaskan, aspek teknologi dalam pengelolaan sampah bisa dibagi menjadi teknologi pengelolaan sampah jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Nantinya, dampak dari pengelolaan sampah akan bergantung pada teknologi yang digunakan.

Jika mengacu pada peta jalan pengelolaan sampah di ibukota Jakarta periode 2019-2024, ada sejumlah strategi utama dalam menangani masalah sampah di Jakarta.

"Strategi utama yang diterapkan adalah pengolahan sampah di kawasan mandiri/komersial dan pasar; pembangunan dan pengoperasian TPS 3R, pembangunan dan pengoperasian ITF, pembangunan dan pengoperasian Jakarta Recycling Center," bebernya.

Selain itu ada juga strategi berupa optimalisasi penggunaan kompos terskala rumah tangga dalam pengurangan sampah dari sumbernya dengan pembinaan dan pengawasan yang komprehensif. [adc]

Komentar

Embed Widget
x