Find and Follow Us

Jumat, 15 November 2019 | 06:59 WIB

Aroma Korea di Festival Keraton Kesultanan Buton

Senin, 21 Oktober 2019 | 11:55 WIB
Aroma Korea di Festival Keraton Kesultanan Buton
(Foto: ist)
facebook twitter

INILAHCOM, Baubau - Siapa sih yang tidak mau ke Korea Selatan. Tapi tidak perlu jauh-jauh untuk menikmatinya. Cukup datang ke Baubau, Sulawesi Tenggara. Festival Keraton Kesultanan Buton 2019, 12-17 Oktober, juga mengangkat nuansa ini.

Nuansa Korea Selatan tersebut berada di Kecamatan Sorawolio. Jaraknya sekitar 20 Kilometer dari pusat kota. Lewat salah satu sub event Festival Keraton Kesultanan Buton 2019, Baubau Expo Festival, kekayaan itu turut diangkat.

Suasana negeri ginseng hadir di stand Kecamatan Sorawolio. Di sini tersedia Hanbok atau busana khas Korea Selatan dengan beragam ukuran. Busana tersebut bahkan bisa dipakai oleh pengunjung untuk berfoto.

Suasana selayaknya di Korea Selatan pun semakin kuat. Apalagi, stand ini dilengkapi beberapa spot foto ornamen Negeri Ginseng. Ada lampion, beragam aksara Hangeul, hingga taman mini indoor. Ada juga beberapa bunga-bunga khas Korea. Negeri Ginseng memiliki bunga nasional berupa Hibiscus Syriacus atau Mugunghwa.

Camat Sorawolio Mohamad Amaludin mengatakan, nuansa Korea dimiliki Baubau.

"Tidak perlu jauh-jauh untuk menikmati nuansa Korea. Bagi pecinta budaya Korea silahkan datang ke Sorawolio. Kami memiliki banyak destinasi dengan cita rasa Korea Selatan yang khas. Sebab, destinasi ini memiliki kemiripan dengan Korea di beberapa sisi budayanya," kata Amaludin.

Salah satu spot unik Sorawolio ada di Bugi. Nuansa tradisionalnya masih sangat kental. Lebih menarik, hampir seluruh ornamen kampung dibubuhi aksara Hangeul Korea. Semua elemen kampung seperti gapura, mural, nama jalan, hingga spot selfie menggunakan aksara Hangeul.

Menguatkan nuansa Negeri Ginseng, destinasi ini juga tetap menyiapkan Hanbok. Sembari mengenakan Hanbok, wisatawan bisa berfoto di spot yang sudah disiapkan. Semakin spesial, Hanbok di sini dibawa langsung dari Negeri Ginseng. Sebab, destinasi ini memiliki hubungan harmonis dengan Korea Selatan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Baubau Ali Arham mengatakan, Sorawolio sangat unik.

"Kami tahu, kaum milenial Indonesia sangat suka dengan pernak-pernik terkait budaya Korea. Mereka ini menyukai K-Pop dan produk budaya Korea lainnya. Biar experience semakin lengkap, mari datang ke Sorawolio. Nikmati nuansa Korea di sana. Secara keseluruhan, destinasi ini sangat unik. Sebab, di sana juga mengadopsi aksara Hangeul," kata Ali.

Kedekatan budaya Korea dan Baubau mulai terjalin pada 2009. Sebab, Bahasa Cia Cia dirupakan dalam huruf Hangeul. Bahasa yang digunakan oleh etnik Cia Cia ini pelafalannya dinilai mirip dengan huruf-huruf Hangeul. Secara umum, Bahasa Cia Cia digunakan Buton Selatan dan area Kota Bau Bau. Masuk Bahasa Austronesia, Bahasa Cia Cia dituturkan juga di Pulau Binongko dan Batu Atas.

"Destinasi Baubau penuh dengan kejutan. Apalagi, ada warna Korea yang kental di sana. Destinasi ini jelas sangat menginspirasi. Sebab, wisatawan bisa belajar Bahasa Cia Cia dan hurufnya yang mengadopsi Hangeul. Itu akan menjadi experience yang luar biasa. Jadi, mari eksplorasi kekayaan budaya di sana," tegas Ketua Tim Pelaksana Calendar of Event Kemenpar Esthy Reko Astuty.

Bahasa Cia Cia memang menjadi media komunikasi vital di sana. Pada 2005, ada sekitar 80 Ribu orang penutur Bahasa Cia Cia. Mereka juga berbicara dalam Bahasa Wolio. Sebagai kemasyarakatan, Baubau memang kompleks. Sebab, logat bahasa di sana sangat banyak. Selain Cia Cia, ada juga gaya Kaesabu, Sampolawa, Wabula, dan Masiri.

"Hangeul memang menjadi aksara bagi Bahasa Cia Cia. Aksara Hangeul menarik karena diajarkan juga di sekolah-sekolah. Meski kental dengan warna Korea, masyarakat di sana tetap mempertahankan seni dan budaya asli warisan leluhurnya. Warna Korea yang diadopsi hanya aksaranya dan ini jadi harmoni," papar Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani.

Beragam tradisi lokal memang masih bertahan di Sorawolio, meski mereka memiliki identitas Hangeul. Tradisi yang bertahan diantaranya Mataa, yaitu ritual makan bersama. Ritual tersebut diawali dengan menyiram kampung lama, lalu diteruskan Bubusiana Lipu (menyiram tanah). Ritual tersebut bertujuan mendatangkan keberkahan. Usai dilanjutkan doa dan dzikir, ritual diakhiri dengan makan bersama.

Kuliner yang disajikan khas daerah tersebut. Ada menu ikan, ayam, dan sayuran. Sayurannya pun unik, sebab disajikan juga sayur bunga rotan. Ritual Mataa ini biasanya dilaksanakan setiap tahun pada bulan Oktober atau mendekati musim tanam. Melengkapi experience, Sorawolio menawarkan destinasinya. Ada Hutan Pinus Samparona, Air Terjun Samparona, Lorong Bunga, dan Kampung Kore.

"Kehadiran destinasi dengan nuansa Korea di Baubau sangat menarik. Destinasi ini semakin beragam dan manaarkan banyak value bagi wisatawan. Memang benar, untuk menikmati nuansa Korea cukup datang ke Baubau. Bahkan, wisatawan bisa belajar budaya lokalnya sekaligus melalui Bahasa Cia Cia dan aksara Hangeul-nya," tutup Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya yang juga Menpar Terbaik ASEAN. [*/rok]

Komentar

x