Find and Follow Us

Kamis, 17 Oktober 2019 | 02:22 WIB

Aktifitas Anti-Mainstream Liburan di Singapura

Oleh : Arif Budiwinarto | Rabu, 31 Juli 2019 | 08:16 WIB
Aktifitas Anti-Mainstream Liburan di Singapura
(Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Singapura merupakan negara favorit kunjungan wisata keluar negeri warga Indonesia. Namun, sedikit sekali yang pernah merasakan pengalaman aktifitas anti-mainstream saat di Negara Singa. Apa saja sih?

Singapura sudah tak asing lagi di telinga para travelers Indonesia, baik budget travelers maupun mereka yang menjalani aktfitas bussiness and leisure (bleisure). Jarak Singapura dari Indonesia bisa dibilang cuma selemparan batu, bisa dicapai menggunakan transportasi laut dari Batam maupun penerbangan dari berbagai kota besar.

Sebelum mengunjungi Singapura, pasti yang pertama kali di-googling oleh calon travelers adalah atraksi turis apa saja yang jadi rekomendasi dan bagaimana transportasinya. Jangan heran jika Pulau Sentosa dengan Universal Studio-nya muncul di urutan teratas pencarian, begitupun juga moda MRT yang jadi rekomendasi transportasi selama berlibur.

Namun, pernahkah Anda terpikir untuk mencari pengalaman tidak biasa yang belum banyak orang lakukan selama di Singapura? Jika ya, maka kita sepemikiran. Tapi, apa dong aktifitas yang anti-mainstream-nya?

[Baca juga: Rekomendasi Destinasi Bleisure di Singapura]

Nah, beberapa waktu lalu INILAHCOM bersama rekan media berkesempatan mengunjungi Singapura dalam acara media invitasi yang diadakan Agoda. Kami memanfaatkan free time diantara padatnya agenda untuk mencoba aktiftas tidak biasa. Berikut rangkumannya.

Menjelajah Singapore City Pakai Skuter Listrik

Harus diakui Singapura memiliki jaringan transportasi publik terintegrasi terbaik di dunia. Ketertiban berlalu lintas para pengguna jalan menjadi salah satu alasan mengapa di kota ini hampir tidak pernah terlihat kesemerawutan ataupun kemacetan.

Kecenderungan penduduknya menggunakan transportasi publik dalam beraktifitas meminimalisir jumlah kendaraan yang lalu lalang di jalan ibukota maupun daerah pinggiran. Tren ini juga sering direkomendasikan bagi para wisatawan saat mengunjungi Negeri Singa, karena ongkos taksi dan transportasi berbasis online bisa menguras dompet Anda.

Namun, sekali-kali Anda perlu mencoba opsi kendaraan lain untuk berkeliling di Singapura, khususnya di Singapore City, menggunakan skuter elektrik. Salah satu operator penyewaan skuter elektrik di Singapura adalah City Scoot. Operator ini bisa Anda temukan di aplikasi Agoda, sehingga bisa memudahkan Anda dalam melakukan reservasi.

Penyewaan skuter elektrik bisa disesuaikan dengan bujet Anda. Untuk satu jam peminjaman dikenakan biaya 20 SGD (Rp270 ribu), dua jam peminjaman 30 SGD (Rp. 311 ribu), sedangkan untuk peminjaman selama 24 jam dikenakan 95 SGD (Rp 985 ribu. Atau, mau yang lebih murah Anda bisa mengambil paket ovenight dengan biaya 50 SGD seperti yang dilakukan INILAHCOM.

Paket overnight ini mulai dari pukul 17:00-11:00. Untuk menyewa, Anda bisa langsung mendatangi outlet City Scoot di North Bridge Road, #B1-56 High Stree Center, atau bisa juga melakukan reservasi melalui things-to-do di aplikasi Agoda.

Sebelum Anda menjelajah dengan skuter elektrik, petugas City Scoot akan terlebih dulu memberi arahan bagaimana mengoperasikan skuter listriknya. Skuter listrik memiliki mesin penggerak dengan tiga kecepatan, dilengkapi dengan rem tangan serta tuas gas di stang bagian kanan. Untuk keamanan, ada klakson, serta bagian depan dilengkapi lampu sorot kecil dan braking-stop lamp di bagian belakang.

Setelah sekitar 10 menit uji coba di depan City Scoot, kami memulai penjelajahan menggunakan skuter elektrik. Dari peta rekomendasi yang diberikan City Scoot, kami disarankan menyusuri pinggiran Singapore River yang melintasi kawasan Clarke Quay sampai Marina Bay Sands dengan jarak kurang lebih 10 KM.

[Baca juga: Rekomendasi Wisata Malam di Singapura]

Menggunakan skuter listrik tak mengeluarkan enerji berlebihan, Anda tinggal menarik tuas gas sambil mengganti gigi kecepatan seusai keinginan. Dengan dimensi kecil, skuter elektrik leluasa melewati jalanan kecil dan sempit, melintasi terowongan dan menyelinap diantara para pejalan kaki di pedestrian.

Namun, perlu diingat Anda tidak boleh menggunakan skuter elektrik di jalan raya. Bahkan, saat menyebrangi jalan Anda diharuskan menuntun skuter elektriknya.

Malam hari kami menjelajahi kawasan Clarke Quay, lalu dilanjutkan menyusuri pedestrian jalan Bras Basah Road, sampai ke Victoria Street sembil sesekali berhenti dan bersenda gurau menunggu lampu merah. Lelah berkeliling kami memutuskan pulang ke hotel, untuk melanjutkan eksplorasi esok pagi. Sebagai info, skuter elektrik diperbolehkan dibawa masuk ke kamar hotel.

[Baca juga: The Sultan Hotel Cocok buat Bleisure di Singapura]

Pagi harinya, sebelum mengembalikan skuter ke City Scoot kami memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mengunjungi Fort Canning di Victoria Street. Fort Canning dulunya markas pengintai tentara Inggris karena lokasinya yang cukup tinggi.

Selain itu, kami juga menyempatkan mampir ke National Gallery Singapore. Di sini Anda bisa memilih lukisan karya seniman kenamaan Singapura untuk kemudian dijadikan file lalu dikirim ke email pribadi Anda.

Kami juga menemukan fakta lainnya, skuter elektrik bisa juga dijadikan pelengkap Anda berswafoto agar lebih instgrammable. Meskipun tak banyak lokasi kami kunjungi, pengalaman naik skuter elektrik menjadi salah satu yang paling berkesan selama di Negeri Singa. Nah, Anda tertarik mencobanya?

Mengunjungi Pulau Ubin, Jejak Sejarah Singapura

Banyak yang merekomendasikan Pulau Sentosa atau Sentosa Island saat Anda berkunjung ke Singapura. Namun, sedikit sekali yang tahu dan pernah mendengar nama Pulau Ubin di Singapura. Jika Pulau Sentosa menawarkan hiburan buah dari modernitas, termasuk di dalamnya Universal Studio Singapore, berbeda dengan Pulau Ubin.

Masih dalam rangkaian media invitasi yang diadakan Agoda beberapa waktu lalu, INILAHCOM menyempatkan diri mengunjungi Pulau Ubin untuk memenuhi rasa keingintahuan seperti apa pulau yang konon katanya merupakan miniatur Singapura tempo dulu.

[Baca juga: Rekomendasi Destinasi Bleisure di Singapura]

Pulau Ubin terletak di sisi Timur Laut Singapura. Kami memulai perjalanan dari Stasiun MRT Clarke Quay menuju Stasiun MRT Tampines. Keluar dari stasiun, kami sempat berhenti sejenak untuk membeli camilan, kebetulan di seberang Stasiun Tampines ada pasar rakyat yang menjajakan makanan dan minuman dengan harga murah.

Setelah perut terisi dan membeli bekal perjalanan, kami menuju Changi Ferry Village menggunakan bus bernomor trayek 29 dari Terminal Bus Tampines. Sekitar 30 menit menempuh perjalanan, kami akhirnya tiba di shelter terakhir Changi Ferry Village. Setibanya di terminal, Anda tinggal berjalan kaki sekitar lima menit saja menuju Changi Point Ferry Terminal.

Di Changi Point Ferry Terminal, Anda tinggal mengikuti petunjuk sebelum naik ke kapal penyebrangan yang berkapasitas 12 orang. Penyeberangan untuk wisatawan internasional tersedia pukul 07-19.00 waktu setempat. Sedangkan untuk biaya penyeberangan per orang membayar 3 SGD (Rp.31 ribu).

Setelah menyeberang selama 20 menit, kapal yang membawa kami tiba di dermaga Pulau Ubin. Kesan pertama yang tertangkap mata adalah takjub dan kagum pada keindahan alam pulau ini. Jika Anda pernah mengunjungi Pulau Belitong yang identik dengan bebatuan berukuran besar, di Pulau Ubin juga bisa ditemukan pemandangan serupa.

Berbeda dengan Singapura yang sarat akan kemajuan, Pulau Ubin masih sangat tradisional. Pulau ini ditinggali 38 orang, transportasi yang tersedia adalah sepeda, sedangkan kendaraan bermotor bisa dihitung pakai jari. Penduduk Ubin menggantungkan hidup dari hasil melaut, serta menjual makanan pada wisatawan yang berkunjung.

Selain pantai dan desa nelayan, Pulau Ubin juga masih memiliki hutan tropis serta perkebunan yang ditanami pohon-pohon buah khas Asia Tenggara semisal durian, jambu, pisang, sampai belimbing.

Dalam kesempatan berkunjung tersebut, kami bertemu dengan rombongan turis asal China yang tengah asik berusaha melempar durian ke tanah untuk mendapatkan daging buahnya.

Untuk mengeksplorasi Pulau Ubin, Anda bisa menyewa sepeda gowes hanya dengan mengeluarkan uang 6 SGD (Rp 62 ribu) per orang untuk waktu sewa sampai pukul 17:00 waktu setempat. Anda tak perlu takut tersesat, karena di setiap cabang jalan ada petunjuk arah serta lokasi.

Selain aktifitas bersepeda, di Pulau Ubin Anda juga bisa kemping, dan memancing. Bahkan, menurut cerita penduduk lokal, Pulau Ubin sering dijadikan lokasi pendidikan taruna kepolisian.

Berada di Pulau Ubin seakan membawa Anda kembali ke masa awal sejarah Singapura sebagai desa nelayan. Belum ada alat-alat berteknologi maju, kendaraan bermotor, dan yang pasti kehidupan berjalan manual seperti mendapatkan air dari sumur.


Sayangnya, kami tak bisa berlama-lama mengeksplorasi Pulau Ubin atau untuk sekedar menikmati senja, padahal masih banyak tempat yang belum disambangi seperti Chek Jawa, kawasan ekosistem yang kaya hewan liar di Pulau Ubin.

Komentar

x