Find and Follow Us

Senin, 17 Juni 2019 | 15:57 WIB

Kasus Bullying pada Anak

Bergerombol, Membuat Anak Semakin Agresif?

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Jumat, 12 April 2019 | 10:55 WIB
Bergerombol, Membuat Anak Semakin Agresif?
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Kasus Bullying pada anak kerap terjadi baru - baru ini. Hal ini terjadi karena tekanan dari orang lain yang lebih tua dan bergerombol.

Berkaca dari kasus pengeroyokan terhadap anak kini semakin marak. Hal tersebut terlihat dari kasus yang belakangan menjadi perbincangan warga net, yaitu dengan Tagar #JusticeForAudrey.

Tagar #JusticeForAudrey mencuri perhatian media sosial Twitter. Itu karena seorang siswi yang masih duduk di bangku SMP berinisial AY (14) warga Pontianak, Kalimantan Barat, dikeroyok oleh 9 orang siswi SMA.

Viralnya cerita itu diungkap di akun Twitter @syarifahmelinda. Aksi pengeroyokan itu terjadi karena masalah asmara. Pelaku utamanya ada 3 orang. Akibat pengeroyokan itu, korban harus dirawat di rumah sakit.

Pengeroyokan yang diduga oleh kelompok yang bergerombol dinilai dari teori psikologi sosial adalah menimbulkan sikap yang agrerif dan lebih percaya diri.

"Iya, betul sekali. Di psikologi sosial ada teori crowd. Menjadi lebih percaya diri," kata Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., seorang psikolog anak dan keluarga dari Klinik Terpadu Universitas Indonesia, Jakarta, Kamis, (11/04/2019).

Salah satu cara untuk menghindari melakukan tindakan bullying adalah dengan banyak membaca. Mengisi waktu luang dengan kegiatan positif menjadi sangat penting agar anak - anak bisa memiliki ide - ide positif. Sehingga, lanjutnya, tidak ada lagi pemikiran untuk melakukan tindakan negatif apalagi untuk menyerang orang lain.

"Jadi, gini, kalau aku liat anak - anak di sekolah ya memang sekolah - sekolah itu kasih bacaan. Ada beberapa sekolah yang rajin banget kasih buku - buku. Itu, frekuensi bullying kecil. Terus kemudian, mereka bisa lebih menghargai perbedaan, mereka bisa lebih menghargai orang lain, mereka belajar baik itu bagaimana, belajar yang buruk gimana, dan cara menyelesaikan konflik itu gimana. antara lain itu dari apa yang dia baca," tambah Anna Surti.(tka)

Komentar

Embed Widget
x