Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 18 Januari 2019 | 14:20 WIB

Tiga Senjata Pamungkas Tingkatkan Wisatawan 2019

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Kamis, 20 Desember 2018 | 21:45 WIB

Berita Terkait

Tiga Senjata Pamungkas Tingkatkan Wisatawan 2019
Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya - (Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menjelaskan, program super extra ordinary akan dijadikan sebagai senjata pamungkas dalam mewujudkan target akhir 20 juta wisman tahun depan.

Super extra ordinary yang mencakup tiga program; border tourism, tourism hub, dan low cost terminal (LCT). Program ini sebagai strategi bauran dari tiga program yakni; ordinary, extra ordinary, dan super extra ordinary.

Program ordinary dijalankan di tahun-tahun sebelumnya yaitu sebagai business as usual berupa program promosi BAS (Branding, Advertising, Selling) dengan continuous improvement secara dinamis, sedangkan program extra ordinary yang diluncurkan tahun 2018 yaitu Incentive (Airlines), Hot Deals, dan Competing Destination Model.

Sementara itu program super extra ordinary, kata Menpar Arief Yahya, sebagai program istimewa yang sengaja disimpan untuk menjadi senjata pamungkas dalam mewujudkan target akhir 20 juta wisman tahun depan.

Super extra ordinary mencakup tiga program yaitu: Border Tourism, Tourism Hub, dan Low Cost Terminal

"Border tourism harus kita seriusi di tahun depan karena merupakan cara efektif untuk mendatangkan wisman dari negara-negara tetangga," kata Arief Yahya, Jakarta, Kamis, (20/12/2018).

Masih menurutnya, wisman dari negara tetangga memiliki kedekatan (proximity) secara geografis sehingga wisman lebih mudah, cepat, dan murah menjangkau destinasi Indonesia. Kedua, mereka juga memiliki kedekatan kultural/emosional dengan Indonesia sehingga lebih mudah didatangkan.

"Ketiga, potensi pasar Border Tourism ini masih sangat besar baik dari Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, PNG, maupun Timor Leste.

Untuk program tourism hub sebagai strategi menjaring di kolam tetangga yang sudah banyak ikannya," tambahnya.

Maksudnya, wisman yang sudah berada di hub regional seperti Singapura dan Kuala Lumpur ditarik untuk melanjutkan berlibur ke Indonesia.

"Salah satu persoalan pelik pariwisata kita adalah minimnya direct flight dari originasi. Direct flight kita misalnya dari originasi China mencapai 50 persen, artinya 50 persen sisanya masih transit dari Singapura, Kuala Lumpur, atau Hong Kong. Sementara negara tetangga seperti Thailand atau Malaysia direct flight-nya sudah mencapai 80 persen," paparnya.

Mendatangkan direct flight dari originasi bukanlah hal mudah.

"Menpar minta direct flight dari India ke Bali tiga tahun nggak dikasih. Akan jauh lebih mudah jika kita "menjaring" di hub-hub regional yang sudah banyak wisatawannya," kata Arief Yahya.

Menpar Arief Yahya mengestimasikan jumlah orang asing yang masuk via bandara Singapura (selain orang Indonesia) selama 12 bulan terakhir hampir mencapai 12 juta pax (rinciannya: 32 persen dari ASEAN minus Indonesia; 22 persen dari China-Hong Kong; 17 persen dari Asia-Pasifik; 14 persen dari Asia Tengah, MEA, Afrika; dan sisanya dari Eropa dan Australia).

Sementara wisman ke Indonesia yang transit di bandara Singapura jumlahnya tidak sampai 700 ribu. Artinya peluang untuk menggaet wisman yang jumlahnya sekitar 11 juta lebih itu masih terbuka luas.

Sementara itu untuk program low cost terminal diterapkan tahun depan. Selama ini kita salah memilih vehicle untuk konektivitas udara, dimana kita harus tumbuh tinggi tetapi lebih banyak menggunakan vehicle yang tumbuhnya rendah.

Wisman yang datang ke Indonesia tahun 2017 lebih dari 55 persen menggunakan Full Service Carrier (FSC) dan sisanya menggunakan Low Cost Carrier (LCC). Namun, ternyata pertumbuhan FSC rata-rata hanya 12% jauh di bawah LCC yang tumbuh rata-rata 21 persen per tahun.

"Maka, LCC adalah senjata ampuh untuk mendorong pertumbuhan jumlah wisman, dimana maskapai berbiaya rendah ini menyumbang kontribusi peningkatan kunjungan wisman sebanyak 20 persen. Nah, untuk mendorong pertumbuhan LCC, Indonesia harus mempunyai Low Cost Terminal (LCT). Saya tegaskan bahwa LCT merupakan salah satu penentu utama keberhasilan target kunjungan 20 juta wisman pada tahun 2019," kata Arief Yahya.

Menpar lanjut menjelaskan, saat ini bandara yang paling siap dikembangkan menjadi LCCT adalah Terminal 1 dan 2 Soekarno-Hatta.

"Nantinya Terminal 1 diarahkan menjadi full LCCT penerbangan domestik, sedangkan Terminal 2 full LCCT untuk penerbangan domestik dan internasional. Di samping itu Bandara Banyuwangi juga sedang dikembangkan menjadi LCCT setelah melalui berbagai proses pembenahan," ujarnya.(tka)

Komentar

x