Find and Follow Us

Senin, 22 April 2019 | 15:50 WIB

Masa Depan Penanganan Masalah Kesuburan

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Selasa, 18 Desember 2018 | 19:10 WIB
Masa Depan Penanganan Masalah Kesuburan
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Ada berapa kemajuan yang telah dilakukan dalam penanganan masalah gangguan kesuburan, antara lain adanya tarif atau harga pelayanan kompetitif sebagai hasil pengelolaan pelayanan secara efektif.

Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG(K), MPH, menjelaskan, di samping itu, kerja sama dengan pihak luar seperti produsen farmasi dan alat kesehatan juga dapat lebih banyak menurunkan biaya pelayanan.

"Saat ini juga telah dilakukan pembangunan infrastuktur fisik dan pengadaan peralatan yang modern. Peralatan medis yang dibutuhkan dalam tindakan pelayanan bayi tabung tidak dapat dikatakan murah. Namun hal tersebut dapat dicarikan solusinya, yaitu dengan menjalin kerjasama dengan institusi lain yang memilikl kesamaan visi," kata Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG(K), MPH, Jakarta, Selasa, (18/12/2018).

Keterjangkauan akses juga merupakan sebuah tantangan besar sekaligus kesempatan yang dapat dimanfaatkan dalam mengembangkan layanan bayi tabung. Melalui sinergi dengan pusat pelayanan kesehatan yang telah ada di Indonesia akan mempercepat peningkatan keterjangkauan akses secara flsik.

"Keterbatasan akses yang lain untuk pasien mendapatkan pelayanan fertilitas adalah dari segi pendanaan. Dengan memanfaatkan kemajuan industri perbankan yang ada saat ini, pembiayaan pelayanan dapat dikelola agar memudahkan pasien, sebagai contoh di Jepang. Selain budaya masyarakatnya yang sangat peduli tentang kesehatan reproduksi, pelayanan tersebut pun telah dijamin oleh jaminan kesehatan. Hal ini akan membuka akses yang sangat luas terhadap masyarakat mendapat pelayanan bayi tabung," jelasnya.

Untuk mendirikan sebuah Pusat Fertilitas, ada beberapa hal yang harus dipenuhi oleh rumah sakit atau klinik. Selain harus memiliki teknologi dan fasilitas yang lengkap, pusat fertilitas diwajibkan untuk memiliki tim medis yang berkompeten di bidangnya, seperti dokter umum, gynecologist, perawat, embryologist, dan counselor.

"Dalam era kedokteran presisi di bidang rerproduksi, riset selalu diperlukan untuk terus berinovasi sehingga pelayanan fertilitas dapat semakin meningkat. Pelayanan bayi tabung sangat bergantung pada orang-orang yang bekerja di belakangnya, dalam hal ini dokter dan embriologis. Indonesia harus berbangga, karena saat ini telah memiliki pakar-pakar di kedua bidang tersebut. Sehingga pelayanan berkualitas dan berbasis bukti ilmiah pasti dapat kita wujudkan disini," tutupnya.(tka)

Komentar

Embed Widget
x