Find and Follow Us

Rabu, 17 Juli 2019 | 15:26 WIB

Tantangan Kesehatan pada Bayi Prematur

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Sabtu, 17 November 2018 | 14:45 WIB
Tantangan Kesehatan pada Bayi Prematur
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Seribu Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) merupakan periode emas bagi tumbuh kembang anak, termasuk pada 270 hari masa kehamilan normal.

Namun, bagaimana dengan anak yang Iahir sebelum masa kehamilan normal selesai, atau prematur?

Di seluruh dunia, sejumlah 15 juta bayi terlahir prematur per tahunnya, dan angka ini bertambah. Indonesia menempati peringkat ke - 5 kelahiran prematur tertinggi di dunia, dengan angka kejadian 15,5 persen.

Anak yang terlahir prematur merupakan anak yang Iahir pada usia kehamilan (gestasi) kurang dari 37 minggu akibat berbagai kondisi. Dengan kondisi tubuh yang belum optimal dan besarnya tantangan pemenuhan nutrisi, anak yang terlahir prematur membutuhkan perhatian dan penanganan khusus untuk bisa mendukung tumbuh kembang dan masa depannya.

Menurut dr. Putri Maharani Tristanita Marsubrin, SpA (K) selaku Dokter Anak Konsultan Neonatalogi RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), anak yang terlahir prematur berisiko memiliki kondisi kesehatan yang memerlukan perhatian khusus karena dapat berdampak pada tumbuh kembangnya. Hal ini baik dalam jangka pendek ataupun panjang.

"Perlu diingat bahwa masa depan anak tidak hanya ditentukan setelah ia lahir. Masa depan seorang anak dipengaruhi oleh status kesehatan pada 1000 hari pertama, dimulai sejak masih di dalam kandungan ibu (270 hari)," kata Putri di acara Dukung Si Kecil yang Lahir Prematur untuk Tumbuh Kembang Optimal yang diselenggarakan Nutricia Sarihusada, Jakarta, Sabtu, (17/11/2018).

Bayi prematur memiliki banyak tantangan kesehatan setelah Iahir, seperti gangguan pernafasan, peningkatan risiko infeksi, dan peningkatan risiko penyakit tidak menular atau non communicable diseases (NDS) seperti hipertensi dan diabetes di kemudian hari, atau masalah kesehatan yang lain.

Salah satu cara mengurangi hal tersebut adalah dengan mengetahui faktor risiko ibu melahirkan anak prematur.

Kondisi hipertensi, diabetes, asma, gangguan tiroid, pre-eklamsia, dan gangguan autoimun serta anemia pada calon ibu merupakan beberapa faktor yang dapat memicu anak lahir secara prematur.

Khususnya anemia pada ibu. Menurut Riskesdas 2013 menunjukkan 37,1 persen ibu hamil menderita anemia, yaitu ibu hamil dengan kadar Hb kurang dari 11,0 gram/dl, dengan proporsi yang hampir sama antara di kawasan perkotaan 36,4 persen dan perdesaan 37,8 persen.(tka)

Komentar

Embed Widget
x