Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 11 Desember 2018 | 22:45 WIB

70 Persen Pasien Sarkoma Salah Penanganan

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Kamis, 1 November 2018 | 20:10 WIB

Berita Terkait

70 Persen Pasien Sarkoma Salah Penanganan
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Banyak dari kita mungkin mengesampingkan beberapa gejala umum sebagai tanda-tanda penyakit ringan.

Nyeri sendi, misalnya, sering diasosiasikan dengan rematik, sementara perut kembung dihubungkan dengan asam lambung.

Namun, gejala-gejala ini sebenarnya dapat menjadi tanda-tanda penyakit yang lebih serius dan rumit, seperti sarkoma. Sarkoma merupakan jenis kanker yang berkembang di jaringan ikat, seperti otot, lemak, tulang, tulang rawan, dan pembuluh darah. Kanker ini bisa muncul di bagian tubuh mana pun, serta memiliki gejala yang tampaknya tidak berbahaya dan sulit dibedakan dari penyakit-penyakit ringan.

Sebuah studi dari Amerika Serikat (AS) memprediksi, lebih dari 13.000 orang di AS akan terdiagnosis memiliki sarkoma jaringan lunak di tahun 2018, dan mengakibatkan sekitar 5.000 kematian. Sementara, penelitian lain menemukan kesalahan penanganan pada 70 persen pasien, sehingga turut berkontribusi pada masih rendahnya tingkat kelangsungan hidup rata-rata lima tahun (five-year survival rate), yaitu sekitar 50 persen saja.

Sarkoma dianggap langka karena hanya ditemui pada satu persen kasus kanker dewasa. Namun, data-data terbaru mengindikasikan bahwa sarkoma mungkin lebih umum daripada yang diyakini sebelumnya. Antara lain, studi di Inggris menunjukkan lompatan signifikan dalam jumlah orang yang didiagnosis terkena sarkoma setiap tahunnya, dari 3.800 menjadi 5.300 saat ini.

"Ini memprihatinkan karena sampai saat ini pemahaman kita akan sarkoma yang begitu kompleks ini masih kurang lengkap, khususnya di Asia," kata Konsultan Senior Onkologi Medis Parkway Cancer Centre (PCC) Dr. Richard Quek, ketika berbicara di sebuah diskusi media di Jakarta, Rabu, (31/10/2018).

Masih menurutnya, jika dibandingkan dengan populasi barat, masih belum banyak pusat data nasional yang resmi di Asia, sehingga data tentang prevalensi sarkoma dan bagaimana penyakit tersebut dikelola di wilayah ini masih terbatas.

"Ini sering menyebabkan diagnosis yang terlambat atau tidak akurat, yang kemudian menyebabkan penanganannya juga tidak tepat," tambah Dr. Quek.

Dia juga menyebutkan, kesadaran dan pemahaman tentang sarkoma masih cenderung rendah, baik di kalangan masyarakat umum maupun tenaga kesehatan profesional.(tka)

Komentar

Embed Widget
x