Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 11 Desember 2018 | 23:47 WIB

Ini Cara Identifikasi Anak Trauma Berkepanjangan

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Senin, 22 Oktober 2018 | 18:35 WIB

Berita Terkait

Ini Cara Identifikasi Anak Trauma Berkepanjangan
Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi. - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Anak menjadi salah satu kelompok yang paling rawan terkena trauma pasca bencana. Lantas, bagaimana mengidentifikasi trauma berkepanjangan?

Menurut Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi. (Psikolog Anak), anak adalah kelompok yang paling berat dan rentan. Namun, banyak yang bilang, kalau anak - anak cepat lupa pada seuatu kejadian. Padahal hal tersebut belum tentu terjadi pada semua anak.

"Karena gini, kondisi anak - anak itu masih sangat bergantung dengan orang orang dewasa disekitarnya. Kalau orang dewasa bisa merasaa aku harus kuat. Kalau anak - anak tidak bisa," papar Vera saat ditemui di acara talkshow Menggunakan Bakat Kita untuk Meringankan Derita Korban Gempa yang diselenggarakan oleh Penerbit Erlangga, Jakarta, Senin, (22/10/2018).

Masih menurutnya, anak - anak paling berat mengalami dampaknya dalam hal ini. Pada dasarnya, anak - anak untuk menolong diri sendiri saja masih sangat sulit.

"Padahal banyak orang - orang di sekitar anak suka bilang anak - anak sudah bisa main dan cerita. Padahal mereka ya bermain bukan berarti lupa. Mereka butuh media untuk melungangkan isi hatinya," tambah Vera.

Mengidenfikasi trauma pada anak jika mengalami sesuatu hal yang berkepanjangan bisa dilihat dari durasinya.

"kalau shock berkepanjangan bagaimana cara tahunya? Kalau seorang anak mengalami trauma yang lama ini harus menunggu durasinya. Kalau satu bulan atau 4-6 minggu sudah lewat. Kalau gejala - gejala masih ada, ini masih perlu bantuan. Ada beragam gejala," ujar Vera.

Misalnya, jika anak di bawah 5 tahun mengalami gangguan pola tidur. Ini sangat jelas terlihat.

"Maunya nempel terus sama orangtuanya, mengalami mimpi buruk, suka terbangun, dan nangis terus - terusan. Kalau diatas 5 tahun ada cara mengenalinya baik anak laki - laki dan perempuan berbeda. Jika anak laki - laki, suka dibilang enggak boleh nangis. Jadi mereka mengeluarkan dengan cara yang lain, selain menangis. Mereka bisa gampang marah, berantem, melakukan aktivitas fisik. Dia bisa menjurus ke perilaku bahaya. Kalau perempuan, cenderung murung, menarik diri, menangis. Ketika seni masuk, ini bisa menjadi penyaluran. Ini bisa keluar sendiri apa yang dirasakan. Tujuannya adalah untuk rilis atau mengeluarkan isi hatinya," tambahnya. (tka)

Komentar

Embed Widget
x