Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 Desember 2018 | 20:25 WIB

Masyarakat Indonesia Kurang Peduli Kesehatan

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Jumat, 12 Oktober 2018 | 20:15 WIB

Berita Terkait

Masyarakat Indonesia Kurang Peduli Kesehatan
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Masyarakat Indonesia saat ini kurang peduli kesehatan. Padahal, saat ini gaya hidup menjadi salah satu pemicu utama penyakit kritis.

Masyarakat dari berbagai usia, baik yang produktif maupun usia senja tidak luput dari risiko penyakit kritis. Menurut dr. Johan Winata, Sp,JP (K) FIHA, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah konsultan kardiologi intervensi RSPI, masyarakat Indonesia sangat kurang peduli dengan gaya hidup sehat. Memilih makanan yang sehat dan mengelola stress yang baik adalah salah satu kunci menjalankan hidup sehat.

"Di Indonesia, penyakit kritis yang paling pertama adalah masalah cardiovaskular yaitu stroke atau gangguan pembuluh darah dan jantung kemudian baru kanker. Sebenarnya angka ini dibanding 20 tahun lalu sangat terbaik. Kalau dulu kanker yang pertama. Baru penyakit metabolik termasuk jantung. Untuk data, memang setengahnya atau 50 persen angka kematian disebabkan karena penyakit jantung dan pembuluh darah. Kemudian 40 persen jantung coroner dan 38 persen stroke," papar Johan saat ditemui di acara BCA dan AIA Luncurkan Proteksi Penyakit Kritis Maksima (PRIMA), Jakarta, baru - baru ini.

Meski angka tersebut sangat tinggi untuk penderita penyakit kritis, ternyata masih banyak masyarakat yang tidak memiliki jaminan kesehatan untuk mengantisipasi biaya kesehatan di dalam keluarga. Menurut data dari AIA Healthy Living Index Survey 2018 menunjukkan bahwa sekitar 87 persen masyarakat Indonesia sangat mencemaskan biaya untuk pengobatan penyakit kritis.

Kemudian,, penyakit yang dianggap akan menimbulkan dampak finansial yang serius adalah kanker 53 persen, penyakit jantung 47 persen dan diabetes 31 persen. Untuk pengobatan penyakit seperti kanker, 31 persen menyatakan mereka membayar menggunakan uang tabungan dan 28 persen melalui asuransi.

"Kalau dihitung, untuk biaya mengatasi penyakit jantung, sekitar Rp. 100 juta lebih. Tergantung dari masalah atau kasus kesehatan jantungnya," tambah Johan.

Karena itu, direktur BCA Suwignyo Budiman mengatakan, memiliki jiwa dan raga yang sehat merupakan dambaan hidup semua orang. Meski demikian, gangguan kesehatan atau penyakit yang menyerang tubuh memang tidak bisa diprediksi.

"Oleh sebab itu, BCA bersama AIA mengambil langkah dengan menawarkan solusi proteksi jiwa dan penyakit kritis yang saat ini semakin mahal biayanya," ujar Suwignyo.(tka)

Komentar

Embed Widget
x