Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 18 Oktober 2018 | 07:29 WIB

Perkembangan Emosi Dapat Pengaruhi Pola Makan Anak

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Senin, 8 Oktober 2018 | 17:45 WIB

Berita Terkait

Perkembangan Emosi Dapat Pengaruhi Pola Makan Anak
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Anak - anak usia 1 - 5 tahun kerap mengalami masalah pada pola makan. Ternyata hal ini dipengaruhi oleh sifat perkembangan emosi mereka.

Pada usia prasekolah, anak mengalami perkembangan psikis menjadi lebih mandiri, autonom, dapat berinteraksi dengan lingkungannya, serta lebih mengekspresikan emosinya. Ini Bentuk luapan emosi yang biasa terjadi adalah menangis atau menjerit saat anak tidak merasa nyaman.

Sifat perkembangan yang terbentuk ini dapat mempengaruhi pola makan anak. Hal tersebut menyebabkan anak terkadang bersikap terlalu pemilih, misalnya cenderung menyukai makanan ringan, sehingga menjadi kenyang dan menolak makan saat waktu jam makan.

Anak juga sering rewel dan memilih bermain saat orangtua menyuapi makanan. Anak akan mengalami kesulitan makan jika tidak segera diatasi. Proses pembelajaran makan yang baik sangat penting bagi anak di fase usia prasekolah agar dia tumbuh sehat dan cerdas. Hal tersebut biasa dikenal dengan sebutan picky eater.

Menurut Prof. Dr. Rini Sekartini, SpA, picky eater merupakan gangguan perilaku makan pada anak yang berhubungan dengan perkembangan psikologis tumbuh kembangnya dan ditandai dengan keengganan anak mencoba jenis makanan baru (neofobia).

"Kemudian anak mengalami pembatasan terhadap jenis makanan tertentu terutama sayur dan buah, dan secara ekstrim tidak tertarik terhadap makanan dengan berbagai cara yang dilakukan, yaitu menampik makanan yang tidak dia sukai, mengemut makanan, dan menutup mulut dengan rapat pada saat menghadapi makanan yang tidak dia sukai," ujar Rini, Jakarta, Senin, (08/10/2018).

Masih menurutnya, anak yang suka pilih-pilih makanan atau hanya mau makanan tertentu sering disebut picky eater. Sebagian besar ibu mungkin anaknya pernah mengalaminya. Anak biasanya hanya mau makan makanan tertentu, sering tutup mulut menolak makanan yang diberikan, bahkan sampai nangis terus-menerus.

Kondisi tersebut akan mempengaruhi perkembangan gizi pada anak. Karena, kecukupan gizi pada anak sangat penting agar anak tumbuh optimal dan tidak mengalami gagal tumbuh dan gizi buruk.

Menurut sensus yang dilakukan World Health Organization (WHO) (2012, dalam Rohmasari, 2013) diketahui bahwa 42 persen dari 15,7 juta kematian anak di bawah 5 tahun terjadi di negara berkembang dan sebagian besar disebabkan gizi buruk. Dari data tersebut sebanyak 84 persen kasus kekurangan gizi anak usia di bawah lima tahun (balita) terjadi di Asia dan Afrika.

Sedangkan di Indonesia, tahun 2012, terdapat sekitar 53 persen anak di bawah usia 5 tahun menderita gizi buruk yang disebabkan oleh kurangnya makanan untuk mencukupi kebutuhan gizi sehari-hari (Depkes, 2012). Kondisi ini menyebabkan banyak anak Indonesia mengalami stunting.

Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 menunjukkan prevalensi Balita stunting di Indonesia masih tinggi, yakni 29,6 persen di atas batasan yang ditetapkan WHO (20 persen). (tka)

Komentar

Embed Widget
x