Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 14 November 2018 | 04:06 WIB

Penanganan Gangguan Urologi Semakin Canggih

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Kamis, 30 Agustus 2018 | 15:55 WIB

Berita Terkait

Penanganan Gangguan Urologi Semakin Canggih
(Foto: ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Selain kemajuan penangan kesehatan jantung dan pembuluh darah, penanganan gangguan urologi juga semakin berkembang, gangguan batu ginjal, batu saluran kemih, atau pembesaran prostat semakin banyak.

Masalah-masalah urologi kini dapat ditangani dengan pembedahan minimal invasive bahkan non-invasive.

"Pada kasus batu di saluran kemih, pemilihan tindakan yang dilakukan pada pasien ditentukan berdasarkan lokasi, ukuran dan jenis batu yang terbentuk. Beberapa tindakan yang biasa dilakukan seperti Extracorporeal Shockwave Lithrotripsy (ESWL). ESWL ini adalah tindakan non-invasif yang memanfaatkan gelombang kejut untuk menghancurkan batu. Jadi, tidak ada sayatan sama sekali pada tubuh pasien," kata Dokter Hery Tiera, Sp. U, dokter spesialis bedah urologi yang berpraktik di RS Pondok Indah Pondok Indah dan RS Pondok Indah Bintaro Jaya, Jakarta, Rabu, (29/08/2018).

Masih menurutnya, tetapi, apabila batu yang terbentuk ukurannya lebih besar dan lokasinya lebih sulit, maka diperlukan tindakan yang berbeda, seperti Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL), Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS), Uretheroscopy (URS), atau Litotripsi. Pemeriksaan awal dengan CT-urologi sangat dibutuhkan untuk menegakkan diagnosa dan menentukan tindakan penanganan yang tepat untuk pasien.

Selain batu ginjal dan saluran kemih, pembesaran prostat merupakan masalah yang sering dialami pria khususnya yang berusia di atas 50 tahun. Pemeriksaan awal untuk gangguan pembesaran prostat dilakukan dengan pemeriksaan riwayat kesehatan pasien, pemeriksaan laboratorium untuk melihat fungsi ginjal, dan pemeriksaan pencitraan prostat dan saluran kemih menggunakan ultrasonografi (USG).

Penanganan gangguan pembesaran prostat yang ringan dapat dilakukan dengan pemberian obat-obatan, tetapi untuk kasus lanjutan, tindakan minimal invasive seperti Transurethral Resection of Prostate (TURP) dapat dilakukan. Tindakan ini dilakukan dengan teknik endoskopi tanpa sayatan, menggunakan kamera yang masuk melalui lubang berkemih.

Kemudian, jaringan prostat di reseksi atau di evaporasi dari dalam menggunakan elektroda ataupun laser fiber dengan visualisasi langsung (direct vision). Pilihan tindakan penanganan untuk kasus gangguan urologi bersifat individual, dan menyesuaikan kondisi masing-masing pasien.(tka)

Komentar

Embed Widget
x