Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 17 Januari 2019 | 18:49 WIB

Upaya Atasi Stunting di Indonesia Amburadul

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Selasa, 14 Agustus 2018 | 14:55 WIB

Berita Terkait

Upaya Atasi Stunting di Indonesia Amburadul
(Foto: ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Sungguh disayangkan, upaya penanggulangan stunting di Indonesia masih amburadul.

Masalah stunting masih menjadi momok dan Pekerjaan Rumah (PR) bagi Indonesia. Menurut Penelitian yang dilakukan Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A(K), Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik FKUI/RSCM, pada 300 anak usia 1-3 tahun di Jakarta, memperlihatkan sekitar 76,7 persen dari mereka mengkonsumsi protein yang rendah.

Kemudian, merujuk dari hasil Riskesdas 2010 yang memperlihatkan bahwaanak usia 6 - 23 bulan, hanya 38,25 persen yang konsumsi daging dan telur. Kemudian, sekitar 37,2 persen konsumsi susu.

Melihat hal tersebut, penanganan masalah stunting masih banyak ditekankan suplementasi vitamin dan mineral (mikronutrisi). Padahal, yang harus diperbaiki lebih dulu adalah makronutrisi (lemak, karbohidrat, protein), baru ditambahkan mikronutrisi.

Pemberian biskuit, suplemen zat besi, vitamin A, yodium, tidak berpengaruh dalam pencegahan dan penanggulangan weight faltering dan stunting.
Sekian banyak uang negara dibelanjakan secara tidak tepat guna, padahal seharusnya bisa dialihkan untuk yang lebih tepat.

"Misalnya, kita bisa mengundang chef ke suatu daerah, lalu ajarkan ibu-ibu masak menggunakan bahan setempat," kata Dr. dr. Damayanti, Jakarta, baru - baru ini.

Tren memberikan puree buah dan sayur juga meningkatkan risiko anak mengalami weight faltering. Sayur dan buah tetap perlu dikenalkan sejak dini, tapi cukup sedikit saja.

Sayur bisa ditambahkan pada MPASI, dan buah untuk snack. Sayur dan buah mengandung serat tinggi.
Bila terlalu banyak, akan membuat bayi cepat kenyang, mengingat ukuran lambung bayi masih sangat kecil.

"Bila bayi kenyang dengan serat, asupan nutrisi yang lain jadi tidak terpenuhi," jelas Dr. dr. damayanti.

Terlalu tinggi serat juga membuat bayi sembelit. Selain itu, serat juga bisa mengganggu penyerapan nutrisi tertentu. Sehingga, asupannya perlu dibatasi, tidak perlu berlebihan. (tka)

Komentar

Embed Widget
x