Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 18 Juli 2018 | 11:31 WIB
 

Waspada Infeksi Cacingan pada Anak

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Senin, 23 April 2018 | 23:10 WIB
Waspada Infeksi Cacingan pada Anak
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Infeksi cacingan dapat berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Para orangtua harus waspada tentang hal ini.

Iklim tropis di Indonesia menyebabkan rentan terkena berbagai penyakit termasuk infeksi cacing. Sekitar 24 persen orang di dunia menderita infeksi cacingan dan umumnya menyerang anak-anak.

Di Indonesia, menurut Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) selama 2015 prevalensi 28,12 persen namun masih banyak sebenarnya di daerah yang berada di atas 50 persen.

Infeksi cacing yang berulang jika dialami pada anak bisa menyebabkan gangguan gizi danberujung pada kegagalan pertumbuhan atau stunting. Cacing dapat masuk ke dalam tubuh manusia karena adanya kontak langsung antara kulit dengan tanah yang terkontaminasi larva atau telur cacing.

Di dalam tubuh manusia, cacing akan berkoloni danberkembang biak di usus lalu menyerap nutrisi yang masuk ke dalam tubuh seperti karbohidrat dan protein.

"Alhasil anak mengalami defisiensi nutrisi, anemia, bahkan membuat stunting," jelas dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Spesialis Gizi Klinis pada media briefing, Edukasi Mengenai Infeksi Cacing dan Hubungannya Terhadap Gangguan Gizi yang Berdampak Stunting, Jakarta, baru - baru ini.

Secara sederhana, lanjut Juwalita, masalah stunting adalah ketika tinggi badan anak kita tidak sama dengan anak-anak seusianya. WHO menyebutkan anak masuk kategori stunting kalau tinggi badannya berada di level minus 2.

Di dunia, 1 dari 4 anak mengalami stunting dan di negara berkembang 1 dari 3 anak mengalami stunting. Bagaimana dengan Indonesia?

Data Riskesdas pada 2013 menyebutkan prevalensi infeksi cacing pada anak adalah 37,2 persen.

"Dari data Riskesdas ini artinya, 1 dari 3 anak terkena stunting," jawab Juwalita.

Angka ini terus meningkat dibanding tahun 2007 yang prevalensinya 36,8 persen dan pada 2010 yang prevalensinya 35,6 persen. (tka)

Komentar

x