Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 17 November 2018 | 07:12 WIB

Kanker Serviks Umumnya Tidak Bergejala

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Sabtu, 7 April 2018 | 20:30 WIB

Berita Terkait

Kanker Serviks Umumnya Tidak Bergejala
(Foto: ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Kanker serviks muncul tanpa gejala. Namun, kanker ini bisa dicegah dengan melakukan vaksinasi HPV (Human Papilloma Virus).

Menurut dr. Andi Darma Putra, Sp.OG(K) dari RS Cipto Mangunkusumo, pasein kanker serviks umumnya tidak merasakan gejala.

"Umumnya pasien datang pada stadium lanjut, karena di stadium awal tidak ada gejala," ujar dr. Andi Darma Putra, Sp.OG(K) dari RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dalam sebuah diskusi ilmiah di Jakarta, seperti yang dikutip dari siaran pers Forum Ngobras, Sabtu, (07/04/2018).

HPV (Human Papilloma Virus), virus penyebab kanker serviks, menimbulkan beban kesehatan di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Kanker serviks menduduki peringkat dua kanker terbanyak pada perempuan di Indonesia.

Berdasarkan INASGO National Cervical Cancer Registry (2012-2016), insiden tertinggi kanker serviks terjadi pada kelompok usia dewasa muda (usia 35-55 tahun), dengan total 5.216 perempuan dari 2012-2016. Diikuti kelompok usia dewasa tua (55-64 tahun), dengan total 1.561 perempuan.

Ada >200 tipe HPV, tapi tidak semuanya bisa menyebabkan kanker (tipe onkogenik/risiko tinggi). Sebagian lagi tipe non onkogenik (risiko rendah), tapi bisa menyebabkan kutil kelamin.

Bukan berarti aman bila mengalami infeksi HPV yang tipe non onkogenik.

"Sering juga terjadi infeksi campuran. Saya pernah menemukan sampai tujuh tipe HPV, gabungan onkogenik dan non onkogenik," tutur dr. Andi.

Penyakit yang bisa ditimbulkan oleh infeksi HPV bukan hanya kanker serviks. Melainkan juga kanker vagina 60-90 persen, vulva 40 persen, orofaring 12-70 persen, bahkan juga kanker anal >80 persen dan kanker penis 45 persen pada laki-laki. Selain itu, juga kutil kelamin 100 persen.

Dipercaya bahwa kanker serviks dimulai dari permukaan serviks, dan seiring waktu berjalan makin ke lapisan dalam.

"Kalau infeksi menembus sel basal, terjadilah karsinoma invasif," terang dr. Andi.

Lesi Pra Kanker Serviks stadium awal (CIN 1) bisa kembali normal dengan sendirinya; kemungkinannya 70 persen. Namun 30 persen sisanya bisa berlanjut menjadi lesi kanker stadium tinggi (CIN3). Bila sudah CIN3, lebih kecil kemungkinannya untuk kembali normal dan risikonya besar untuk berkembang menjadi kanker serviks.

Untuk terjadinya perubahan sel-sel serviks normal menjadi kanker, butuh waktu paling cepat enam bulan hingga dua tahun. Bahkan bisa sampai 15-20 tahun.

"Karena itu, jangan heran bila perempuan yang sudah menjanda 10 tahun bisa kena," ujarnya.

Ia menyayangkan, kadang dokter kecolongan bila kanker serviks muncul di usia menopause.

"Kadang dianggap bahwa itu penghabisan haid. Namun sampai dua tahun terus berlanjut. Ternyata begitu ditemukan, kanker sudah stadium lanjut," imbuhnya.(tka)

Komentar

Embed Widget
x