Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 26 Mei 2018 | 22:43 WIB
 

Treatment Terbaru Bagi Pasien Limfoma

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Sabtu, 27 Januari 2018 | 18:55 WIB
Treatment Terbaru Bagi Pasien Limfoma
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Tanggerang Selatan - Limfoma merupakan salah satu dari penyakit terbanyak di dunia. Lantas bagaimana untuk mengatasinya?

Hal tersebut berasal dari Data GLOBOCAN ( IARAC) pada tahun 2012. Kematian akibat penyakit ini, yakni dari Limfoma Non-Hodgkin dan Limfoma Hodgkin masih sangat tinggi, yakni mencapai setengah dari kasus baru.

Untuk di Indonesia, diperkirakan lebih dari 14.500 pasien limfoma yang terdeteksi pada tahun 2013 berdasarkan data Riset Dasar Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik indonesia.

Karena itu, pentingnya edukasi penyakit limfoma yang tren-nya mengalami peningkatan dan adanya informasi terbaru di dunia farmasi tentang penemuan treatment terbaru bagi pasien limfoma. Inilah salah satu tepik yang mengemuka di acara Rudy Soetikno Memorial Lecture, yang diselenggarakan oleh Dexa di Titan Center Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu, (27/01/2018).

Limfoma merupakan istilah umum untuk berbagai tipe kanker darah yang muncul dalam sistem limfatik, yang menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening. Limfoma disebabkan oleh sel-sel limfosit B atau "i', yaitu sel darah putih yang dalam keadaan normal atau sehat menjaga daya tahan tubuh kita untuk menangkal infeksi bakteri, jamur, parasit, dan virus, menjadi abnormal dengan membelah lebih cepat dari sel biasa atau hidup lebih lama dari biasanya.

Pada dasarnya, limfoma terbagi menjadi 2 tipe yakni limfoma Hodgkin (LH) dan limfoma Non-Hodgkin (LNH). Sekitar 90 persen pasien limfoma adalah penderita LNH dan sisanya adalah penderita LH.

Penelitian di dunia kesehatan dan farmasi terus berkembang untuk menciptakan penangkal penyakit limfoma agar pasien dapat bertahan hidup lebih lama. Data dari cancer.org, rata-rata hidup penderita limfoma adalah 5 tahun, setelah terdeteksi penyakit limfoma dengan tingkat keganasan tertentu dan treatment tertentu.

Pengembangan Treatment terbaru yang tengah dikembangkan oleh para peneliti dan ahli adalah obat onkologi bendamustine. Bendamustine merupakan obat antitumor teralkilasi dengan aktivitas unik yang memiliki cincin benzomidozale menyerupai purine.

Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan dan dipublikasi di Jurnal Kedokteran terkemuka LANCET, eleh Prof. Rummel MJ, MD, PhD, dari Rumah Sakit Universitas Giessen di Jerman, penelitian tersebut melibatkan dua kelompok pasien, yakni 77 pasien yang mendapatkan perawatan dengan Bendamustine R dan 109 pasien yang mendapatkan perawatan CHOP-R. Pada bulan ke-117, sebanyak 52 pasien yang menggunakan CHOP-R mendapatkan treatment Bendamustine R untuk pengobatan keduanya. Sementara 27 pasien yang menggunakan treatment Bendamustine R, menjalani perawatan keduanya dengan CHOP-R.

Hasil penelitian yang dikemukakan pada Pertemuan Tahunan ASCO 2017 itu menunjukkan, treatment Bendamustine plus Rituximab, meningkatkan waktu ke pengobatan berikutnya (TTNT) dibandingkan dengan pasien NHL indolent yang mendapatkan treatment dengan CHOP-R. ini artinya, jadwal perawatan pasien NHL indolent berikutnya mencapai 69,5 bulan kemudian, jauh lebih lama dibandingkan pasien dengan perawatan CHOP-R yang hanya 31,2 bulan kemudian harus mendapatkan perawatan.

"TTNT yang lebih lama, memiliki arti sebagai berkurangnya effort pasien harus mendapatkan perawatan sekunder setelah treatment menggunakan Bendamustine R. Lamanya durasi ini, dapat dimanfaatkan pasien dengan aktivitas pengendalian penyakit-yang juga dapat mendorong keberlangsungan hidup yang lebih lama pada penderita limfoma," jelas Prof. Rummel dikutip dari oclive.

Prof. Rummel mengemukakan penelitiannya lebih lanjut. Menurutnya, jika ditilik dari keberlangsungan hidup pasien limfoma, angka kematian pasien yang menggunakan perawatan dengan Bendamustine lebih sedikit jika dibandingkan dengan angka kematian pasien dengan perawatan CHOP-R. Dari pasien yang mendapat perawatan Bendarnustine R tersebut, sebanyak 73,9 persennya mendapatkan keberlangsungan hidup hingga 10 tahun.

Melalui penelitian tersebut, juga diperoleh informasi bahwa treatment dengan Bendamustine ternyata ditentukan keganasan sekunder pada kanker limfoma yang lebih sedikit dibandingkan dengan perawatan lainnya. Sebanyak 37 pasien yang diobati dengan Bendamustine melaporkan adanya 39 keganasan sekunder, sementara 40 pasien yang mendapatkan perawatan dengan cara lain mendapati 47 keganasan sekunder.

Data ini menunjukkan bahwa Bendamustine merupakan terapi alternatif terbaik bagi para pasien Limfoma Non Hodgkin. Bendamustine sudah diproduksi di indonesia dengan merek Fonkomustin oleh PT Fonko internatinnal dan diedarkan oleh PT Ferron Par Pharmaceuticals.(tka)

Komentar

 
Embed Widget

x