Find and Follow Us

Sabtu, 16 November 2019 | 08:51 WIB

Kepercayaan Pasien Berobat di LN Masih Tinggi

Oleh : Dahlia Krisnamurti | Senin, 10 Juni 2013 | 16:54 WIB
Kepercayaan Pasien Berobat di LN Masih Tinggi
Pemeriksaan dokter - (Foto : ilustrasi)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Umumnya pasien lebih memilih fasilitas kesehatan yang dekat dengan tempat tinggalnya dan juga biaya yang murah.

Namun pada kenyataannya fenomena yang terjadi adalah banyak pasien yang lebih memilih berobat ke luar negeri. Salah satu faktor penyebab pasien berobat ke luar negeri adalah kepercayaan.

Ironisnya, tak semua pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri berujung pada sebuah kesembuhan.

Sekitar lima persen atau 10 juta lebih penduduk Indonesia setiap tahunnya memilih berobat ke luar negeri. Orang kaya yang ketika merasakan sakit langsung berobat ke luar negeri karena tidak percaya pengobatan di dalam negeri.

Kebanyakan ke Singapura dan Malaysia. Mereka menginginkan pelayanan terbaik dan akurasi dari penyakit yang dideritanya.

Sementara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memprediksi gelombang pasien asal Indonesia yang berobat ke luar negeri telah "menerbangkan" devisa senilai Rp 100 triliun.

"Pemerintah tak bisa menyalahkan rakyat yang ingin berobat ke luar negeri. Di Indonesia, pasien belum dianggap sebagai mitra pengobatan, melainkan masih sebatas obyek," kata Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany, di Jakarta.

Meski sejumlah rumah sakit pemerintah dan swasta gencar mengembangkan layanan kelas VIP (very important person) dan super-VIP, kata Hasbullah, persepsi pasien Indonesia atas buruknya layanan rumah sakit tidak berubah.

Modernisasi hanya terjadi pada penyediaan ruang dan peralatan medik, tetapi profesionalitas dan kemampuan tenaga medik dan pendukungnya belum tertata baik.

Mahalnya pengobatan di Indonesia dinilai Hasbullah disebabkan oleh belum adanya sistem pengaturan tarif. Akibatnya, sejumlah rumah sakit menetapkan harga layanan berdasar harga layanan di rumah sakit lain.

"Pengenaan aneka pajak terhadap alat-alat kedokteran dan obat-obatan juga membuat layanan medik di Indonesia mahal," katanya.

Hasbullah menambahkan, pelayanan pasien kelas kaya di Indonesia akan baik jika pelayanan untuk pasien miskin juga baik. Biaya layanan pasien miskin harus ditanggung negara, bukan disubsidi pasien kaya.

"Sistem subsidi silang dari pasien kaya kepada pasien miskin yang diterapkan sejumlah rumah sakit akan mengurangi kualitas layanan yang diterima pasien," tambah Hasbullah. [mor]

Komentar

Embed Widget
x