Find and Follow Us

Selasa, 19 November 2019 | 18:47 WIB

Awas! 13% Viagra Palsu Beredar di Apotek

Oleh : Dahlia Krisnamurti | Kamis, 2 Mei 2013 | 18:59 WIB
Awas! 13% Viagra Palsu Beredar di Apotek
(Foto : istimewa)
facebook twitter

INILAH.COM,Jakarta - MIAP (Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan), mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk turut berperan aktif memerangi obat palsu di Indonesia.

Banyaknya obat palsu yang mengandung bahan-bahan yang dapat membahayakan kesehatan karena tidak dibuat sesuai dengan standard merupakan salah satu pemicu perhatian MIAP pada persoalan obat palsu.

Berdasarkan hasil penelitian Victory Project yang dilakukan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bersama dengan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) menyatakan bahwa 45 persen obat PDES Inhibitor (Sildenafil) di Indonesia adalah palsu dan bisa menambus masuk ke apotek.

"Masalah obat-obatan palsu adalah masalah yang amat berbahaya dan berkembang terus termasuk di Indonesia, dan sekarang ini semua jenis obat dapat menjadi target pemalsuan, baik obat bermerek ataupun obat yang generik," jelas Ketua MIAP, Widyaretna Buenastuti, di Jakarta, Kamis (2/4).

Menurut Widya, di Indonesia, obat palsu bisa masuk melalui penyelundupan, juga dapat berasal dari impir ilegal termasuk obat-obatan tanpa izin edar atau memang diproduksi di Indonesia oleh produsen-produsen yang tak resmi.

"Ini merupakan persoalan yang berbahaya dan serius untuk ditangani oleh semua pemangku kepentingan,"ungkapnya.

Dari obat-obatan yang sering dipalsukan di Indonesia, obat-obatan yang terkait dengan terapi disfungsi ereksi atau dikenal dengan sebutan PDE5 Inhibitor (phosphodiesterase type 5 inhibitor) menjadi salah satu dari obat yang juga kerap dipalsukan.

Riset Victory Project dilakukan di 4 (empat) wilayah di Indonesia meliputi Jabodetabek, Bandung, Jawa Timur (Surabaya & Malang) serta Medan dengan sampel obat yang dibeli adalah Sildenafil yang dibeli lewat berbagai outlet penjualan baik Apotek (Umum, jaringan, RS), Toko obat, Penjual pinggir jalan (Jakarta & Surabaya) serta lewat pembelian online di 3 situs yang menawarkan.

Dari 518 jumlah tablet yang diuji menunjukkan obat palsu jenis PDE5i yang dijual oleh penjual pinggir jalan 100% palsu, sedangkan dari toko obat sebanyak 56% palsu, lewat situs internet 33% palsu dan di Apotik dengan prosentase terendah yaitu 13% palsu.

Dalam hasil uji ditemukan bahwa di dalam obat PDE5i yang palsu ditemukan kandungan bahan aktif yang kurang atau ada yang berlipat atau melebihi kadar yang seharusnya.

Sedangkan berdasarkan wilayah penelitian, di wilayah Jabodetabek dan Jawa Timur ditemukan jumlah obat palsu jenis ini mencapai 50% sementara di Bandung dan Medan prosentasenya mencapai 18% dan 20%.

"Hasil riset Project Victory ini menggambarkan bahwa kewaspadaan terhadap peredaran obat palsu perlu semakin diperhatikan oleh semua kalangan. Para Dokter, yang berhubungan langsung dengan pasien pengguna obat perlu untuk kembali mengingatkan pasien agar selalu mengupayakan untuk membeli obat-obatan hanya di tempat-tempat resmi".

"Para konsumen pembeli obat juga harus cermat dalam membeli obat, jika ada keraguan terhadap keaslian obat, jangan ragu untuk bertanya kepada dokter, apoteker atau langsung ke produsen pembuat obat dan juga dapat menyampaikan ke pihak berwenang," terang Widya.

DR. Melva Louisa, S.Si, M.Biomed dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menambahkan, dari sisi kesehatan sudah tentu obat palsu yang didalamnya mungkin mengandung zat berbahaya atau tidak dibuat dengan takaran.

Sebenarnya, berkisar dari sangat kecil hingga sangat berlebihan, pasti berakibat pada pengobatan pasien, bisa tidak kunjung sembuh, resisten terhadap pengobatan, sehingga kondisi makin memburuk dan bahkan dalam kondisi ekstrem hal ini dapat menimbulkan kematian.

"Hasil survey Victory Project yang dilakukan oleh pakar kesehatan dan juga didukung oleh produsen obat Pfizer Indonesia ini juga merupakan salah satu bentuk peringatan kepada berbagai pihak akan masalah obat palsu, agar kita semua alert dan mengambil langkah dalam memerangi obat palsu." tambah Dr Melva.

Sementara, ekretaris Jenderal IAI Drs Nurul Falah EP, Apt, menegaskan bahwa Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) amat mendukung perang terhadap obat palsu, dan para apoteker berperan menjadi salah satu key success factor dalam upaya melawan obat palsu dengan terus mengedukasi diri sendiri.

"Kami siap berada di garda terdepan untuk mendukung pemberantasan obat-obatan palsu, terutama yang dijual melalui apotek," tegasnya. [mor]


Komentar

Embed Widget
x