Find and Follow Us

Minggu, 19 Januari 2020 | 12:09 WIB

Di Jakarta, Hanya Kepulauan Seribu Bebas Malaria

Oleh : Dahlia Krisnamurti | Selasa, 23 April 2013 | 19:19 WIB
Di Jakarta, Hanya Kepulauan Seribu Bebas Malaria
(Foto : inilah.com/ilustrasi)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Malaria adalah masalah kesehatan penting di dunia, yang berdampak negatif pada kualitas sumber daya manusia dan produktivitas kerja.

Menurut World Malaria Report 2012, jumlah kasus malaria di dunia adalah 219 juta dengan 660 ribu kematian. Di Indonesia, jumlah kasus malari tahun 2012 adalah 417 ribu dan sekitar 75% dari Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Karenanya, Indonesia bertekad mencapai Eliminasi Malaria dan tahun ini salah satu wilayah di Jakarya yakni Kepulauan Seribu berhasil meraih predikat zona bebas penyakit malaria.

Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu DKI Jakarta, berhasil meraih status eliminasi malaria setelah tiga tahun berturut-turut tidak muncul kasus malaria "indigenous" (asli lokal) di daerah tersebut.

"Kalau sudah berhasil tiga tahun kasus indigenous tidak ada lagi, akan diberikan sertifikat bebas malaria. Kami akan memberikan sertifikat untuk Kepulauan Seribu bertepatan dengan peringatan Hari Malaria Sedunia pada 25 April mendatang," kata Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Andi Muhadir dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (23/4).

Kepulauan Seribu merupakan daerah terakhir di DKI Jakarta yang mendapatkan status eliminasi malaria karena di daerah kepulauan tersebut masih banyak vektor penularan parasit Plasmodium yang menyebabkan penyakit malaria yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles.

Salah satu kendala dalam pengendalian malaria di Kepulauan Seribu disebutkan Juru Malaria Desa (JMD) Pulau Untung Jawa Jalaludin adalah kondisi geografis lingkungan dimana banyak terdapat lagun (kolam penampungan air), empang maupun kali hampir diseluruh daerah kepulauan yang merupakan tempat berkembang biak nyamuk.

"Kendalanya adalah empangnya yang terlalu luas dan masih banyak penduduk desa yang tidak mengerti tentang malaria sehingga susah diajak bekerjasama untuk membersihkan empang," ujar Jalaludin.

Namun sejak terjadi kejadian luar biasa (KLB) malaria di Kepulauan Seribu pada tahun 2001 lalu, Petugas kesehatan dari Puskesmas Kelurahan Pulau Panjang Susilowati mengatakan masyarakat menjadi lebih mengerti mengenai penyakit tersebut dan mulai bekerjasama dengan petugas kesehatan setempat untuk melakukan pengendalian faktor risiko.

"Kondisi saat ini lebih baik, setelah dilakukan pemetaan untuk menemukan lagun yang potensial bagi perkembangbiakan nyamuk malaria, kita menutup lagun itu dan melakukan penyodetan air agar tidak tergenang di lagun-lagun tersebut," kata Susilowati.

Sebagai salah satu tujuan wisata, malaria menjadi ancaman bagi Kepulauan Seribu karena banyaknya kasus malaria telah mengurangi jumlah wisatawan yang mencapai 70 ribu pengunjung pertahun dan sekitar 10 ribu diantaranya merupakan turis asing.

"KLB malaria waktu itu telah berdampak buruk, pariwisata Kepulauan Seribu sempat kolaps di titip mengkhawatirkan, jadi sekarang kita arahkan pengelola tempat wisata termasuk 'homestay' untuk ikut melakukan sosialisasi mengenai pencegahan malaria," kata pegawai Sudin Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Seribu Gumanti.

Pemerintah menetapkan sasaran eliminasi malaria di Indonesia dalam tiga tahap yaitu eliminasi di Pulau Jawa, Provinsi Aceh dan Batam pada 2015, eliminasi di Pulau Sumatera, Provinsi NTB, Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi pada 2020 serta eliminasi di Provinsi Papua, Papua Barat, Maluki, NTT dan Maluku Utara pada 2030. [mor]

Komentar

x