Find and Follow Us

Kamis, 21 November 2019 | 04:42 WIB

Sering Palsukan Orgasme , Ini Ungkapan Wanita

Oleh : Dahlia Krisnamurti | Sabtu, 24 November 2012 | 19:30 WIB
Sering Palsukan Orgasme , Ini Ungkapan Wanita
Ilustrasi - IST
facebook twitter

INILAH.COM,Jakarta - Mendapatkan orgasme setiap kali berhubungan seks tak selamanya dirasakan wanita.Dengan berbagai alasan, wanita pun rela memalsukan orgasmenya.

Padahal bila dipendam terlalu lama, hal inidapat memicu hadirnya frustasi.Sudah banyak survei menyebutkan bahwa sebagian besar wanita memalsukan orgasmenya saat bercinta.

Mengapa?
Dilansir Tango, berikut beberapa alasan yang sering diungkapkan wanita saat melakukan 'kebohongan' padaorgasme.

Kesakitan

Meskipun sudah mendapatkan foreplay yang cukup dan bergairah, untuk beberapa wanita mereka tetap merasatidak nyaman atau kesakitan.
Rasa sakit ini tentu bukan situasi yang membuat mereka menikmati momenbercinta. Oleh karena itu mencapai orgasme pun jadi sulit, sehingga mereka memilih memalsukannya saja.

Bahagiakan pasangan

Pria menganggap kalau bisa membuat wanita orgasme, hal itu tidak hanya membuat mereka senang melihatpasangannya saat meraih kenikmatannya.

Pria-pria rupanya juga jadi lebih mudah mencapai klimaks jikapasangannya bisa orgasme. Menyadari hal itu, para wanita pun ingin membuat pasangannya bahagia dan bisamencapai klimaks dengan cara memalsukan orgasme.

Mood berkurang

Terkadang wanita bisa sangat merasa tidak mood untuk bercinta dan ingin segera menyudahinya. Namun tentusaja mereka tidak bisa melakukan hal itu. Demi mempertahankan kepercayaan diri pasangannya, wanita punmemalsukan orgasmenya.

Agar pasangan tak selingkuh

Satu alasan khusus yang muncul dari banyak penelitian mengapa perempuan sering palsukan orgasme adalahuntuk menjaga pasangan agar tetap tertarik dalam hubungan atau untuk mencegah lelaki pasangannya beralihatau meninggalkan hubungan karena wanita lain.

"Pura-pura orgasme mungkin menjadi bagian dari strategi wanita untuk mempertahankan keintiman hubunganasmara mereka," kata peneliti sekaligus penulis studi dari Colombia University, New York City, Dr FarnazKaighobadi. [mor]

Komentar

Embed Widget
x