Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 23 Maret 2019 | 00:26 WIB

Awas! 'Predator' Seksual Online Intai Anak-Anak

Oleh : Dahlia Krisnamurti | Senin, 29 Oktober 2012 | 16:36 WIB

Berita Terkait

Awas! 'Predator' Seksual Online Intai Anak-Anak
Foto: Ilustrasi

INILAH.COM, Jakarta - Kejahatan seksual terhadap anak secara online kian marak. Tak hanya itu, praktik eksploitasi seksual terhadap anak secara online diperkirakan akan semakin meluas.

Hal ini sebagai dampak kemajuan teknologi komunikasi termasuk di dalamnya gadget dan internet di negara-negara berkembang termasuk Indonesia yang kian marak di lingkungan anak-anak. Kehadiran teknologi inilah yang terus digunakan 'predator' seksual online untuk membahayakan masa depan anak-anak.

Predator seksual online, diibaratkan seperti binatang buas yang mencari mangsanya untuk ditangkap dan diperdayai. Mereka memanfaatkan kelemahan anak-anak yang pada umumnya memiliki rasa ingin tahu besar dan ingin mencoba-coba sesuatu yang baru.

Keadaan labilnya anak-anak dalam memutuskan mana yang pantas dan mana yang tidak, dimanfaatkan bagi predator seksual online untuk melancarkan rayuan dan aksinya.

Presiden ECPAT Indonesia, Prof Irwanto,Ph mengatakan perkembangan teknologi komunikasi informasi dan internet telah memperluas jangkauan kejahatan seksual terhadap anak, bahkan sampai ke ruang belajar anak di rumah.

Berbagai teknik telah dikembangkan di ranah online untuk menggiring anak yang naf, ingin mencari teman, ingin memamerkan dirinya, sampai akhirnya dijadikan korban.

"Kebanyakan orangtua tidak sadar bahkan tidak pernah menyangka bahwa anaknya yang baik-baik di rumah tiba-tiba mempunya gambar seronok yang memalukan tentang dirinya di internet," ujar Irwanto dalam sambutannya di acara seminar Sexual Crime Again Children Online, di Hotel Merrcure, Ancol, Senin (29/10)

Irwanto menjelaskan, para pelaku sulit ditangkap walau teknologi komunikasi selalu mempunyai IP dan mudah dilacak, tetapi mereka berpindah-pindah ke berbagai negara karena alat yang diperlukan mudah sekali dikemas dan disimpan.

"Karenanya, diperlu adanya ketentuan khusus yang mengatur penggunaan teknologi komunikasi informasi dan internet, harmonisasi undang-undang, serta skema kerjasama aparatur hukum di tingkat regional untuk mengatasi masalah eksploitasi seksual terhadap anak di ranah online secara efektif." jelasnya.

Sementara, dalam kesempatan yang sama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar menambahkan kejahatan seksual anak melalui online menjadi pemicu berbagai kasus kekerasan dan trafficking anak yang amat keji.

"Kita semua prihatin atas praktik-praktik keji tersebut yang disinyalir semakin meningkat. Karenanya, diharapkan peran orangtua dalam pendampingan terhadap anak saat sedang menggunakan komputer dan internet," tambah Linda.

Karenanya, untuk mengatasi kejahatan seksual online terhadap anak-anak ini, sambung Linda, para orang tua perlu selalu berkomunikasi dengan anaknya di rumah.

"Orang tua hendaknya mengawasi dan mendampingi anak dalam menggunakan gatget dan internet. Selain itu memberi tahu mereka apa yang benar dan tidak, agar terhindar dari pengaruh negatif internet terkait dengan pelecehan seksual secara online," ungkapnya saat membuka seminar Sexual Crime Again Children Online. [mor]

Komentar

Embed Widget
x