Jumat, 1 Agustus 2014 | 08:41 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Miras Oplosan, Cara Cepat Menuju Kematian
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Ediya Moralia
gayahidup - Kamis, 16 September 2010 | 21:54 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Minuman keras oplosan kembali menjadi penyebab kematian. Korbannya pun berasal dari kalangan beragam, mulai dari teknisi pesawat tempur hingga pekerja seks komersial.

Tiga teknisi pesawat tempur Sukhoi ditemukan tewas di Makassar, awal pekan ini. Mabes Polri menyimpulkan bahwa kematian mereka karena keracunan cairan spiritus.

"Dari hasil pemeriksaan toxiologi ditemukan methanol di seluruh organ tubuh ketiga jenazah. Kami dapat menyimpulkan bahwa penyebab kematian karena keracunan methanol, ujar Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Mabes Polri Brigjen Musadek di Jakarta, Rabu (15/9).

Tiga perakit Sukhoi asal Rusia itu bernama Sergei Voronin, Alexander Poltorak dan Viktor Safonov. Mereka bertugas mengawasi perakitan dua dari tiga jet Sukhoi yang dipesan TNI AU hingga siap tempur.
Sumber yang menolak disebutkan namanya mengatakan, di lokasi kejadian meninggalnya Alexander diamankan beberapa barang berupa botol vodka, 10 botol bir dan beberapa botol obat tetes mata. Padahal di antara kru tak satupun yang menderita sakit mata.
Selain ketiga teknisi Sukhoi itu, miras oplosan juga menjadi penyebab tewasnya 11 warga di Jagakarsa, Jakarta Selatan, 21 Agustus lalu. Miras oplosan itu bisa dengan mudah mereka peroleh dari pedagang jamu di tepi jalan.
Di Bandung, dua pengamen wanita tewas setelah menenggak minuman alkohol dengan kadar 70%. Dua pengamen wanita bernama Ilah Romlah dan Entat tewas seketika setelah menenggak minuman keras oplosan sementara satu orang pengamen lainnya, Dede, selamat karena hanya minum setengah gelas.
"Dari hasil penyeledikan, ternyata Ibu Entat (38) dan Ilah Romlah (38) tewas karena keracunan. Mereka menenggak miras dengan kadar alkahol 70% yang dicampur dengan Marimas rasa jeruk dan madu," kata Kapolsek Babakan Ciparay Kompol Wiharyatmo, di Bandung, Jawa Barat, Minggu (25/7).
Di Malang, akhir Mei lalu, tiga orang tewas setelah berpesta miras yang dibeli dari toko jamu. Sebanyak 10 orang lainnya kritis.
Ketiganya ditengarai tewas usai menenggak minuman keras oplosan yang di antaranya adalah arak campuran alkohol, gula batu dan air yang dibelinya di toko jamu Sumber Waras, milik Sriatin di Desa Krebet, Kecamatan Bulu Lawang.
Miras oplosan memang sudah sangat populer di kalangan peminum minuman beralkohol. Mereka biasanya menambahkan bahan-bahan tertentu untuk mendongkrak efek alkohol. Ada yang mencampurnya dengan minuman berenergi, spirtus, bahkan obat-obatan berbahaya lainnya. Tak sedikit pula yang mencampurnya dengan minuman beralkohol lainnya. Sehingga tak jelas lagi berapa kandungan alkohol dalam minuman tersebut.
Dalam kasus teknisi Sukhoi, mereka diduga mencampur Vodka yang dibawa langsung dari Rusia dengan pembersih kaca pesawat yang mengandung methanol. Methanol sangat berbahaya untuk tubuh karena menekan susunan syaraf pusat.
Methanol sama sekali tidak diperbolehkan untuk dicampur dengan minuman. "Minuman keras mengandung ethil alkohol atau ethanol, sedangkan methanol sama sekali tidak diperbolehkan untuk campuran minuman, seseorang dalam kondisi sehat, lalu meminum methanol 15 sampai dengan 30 mililiter, maka ia akan menyebabkan kebutaan. Sedangkan jika lebih dari 30 mili maka bisa menyebabkan kematian," jelas Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Mabes Polri Brigjen Musadek.
Bila dikonsumsi berlebihan, minuman beralkohol dapat menimbulkan ganggguan mental organik (GMO), yaitu gangguan dalam fungsi berpikir, merasakan, dan berprilaku.
Mereka yang terkena GMO biasanya mengalami perubahan perilaku, seperti misalnya ingin berkelahi atau melakukan tindakan kekerasan lainnya, tidak mampu menilai realitas, terganggu fungsi sosial dan pekerjaannya. Perubahan fisiologis juga terjadi, seperti cara berjalan yang tidak mantap, muka merah, atau mata juling. Perubahan psikologis yang dialami oleh konsumen misalnya mudah tersinggung, bicara ngawur, atau kehilangan konsentrasi.
Sebenarnya, tak ada batas minimal kadar alkohol yang aman bagi tubuh, Karena mengkonsumsi alkohol ternyata tak hanya dapat merusak fungsi hati, namun juga dapat mempengaruhi volume otak.
Otak merupakan salah satu organ penting yang dimiliki oleh manusia kerana otaklah yang mengawal segala pergerakan dan perlakuan seseorang dan dengan kemasukan bahan asing ini ke dalamnya ia akan mempengaruhi pergerakan dan kelakuan peminumnya. antara lainnya kurang sifat malu, pikiran yang tidak fokus dan pengerakan yang tidak lagi seimbang (teler).
Semakin banyak jumlah alkohol yang diminum semakin kuat otak tertindas sehinggakan boleh menyebabkan tidak sadarkan diri dan dapat menjurus ke kematian
Carol Ann Paul, seorang peneliti dari Wellesley College, Massachusetts, Amerika Serikat dan timnya mengungkap bahwa alkohol bisa menjadi sangat berbahaya bagi kesehatan otak.
Volume otak manusia memang akan menyusut seiring dengan bertambahnya umur. Penyusutan itu kemudian mengakibatkan beberapa kelainan, misalnya demensia (kepikunan) serta gangguan kognitif yang lain. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER