Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 18 Oktober 2018 | 18:15 WIB

Wow, 90 Persen Orang Indonesia Alami Nyeri Kepala

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Kamis, 4 Januari 2018 | 17:48 WIB

Berita Terkait

Wow, 90 Persen Orang Indonesia Alami Nyeri Kepala
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Hasil konsensus nasional Kelompok Studi Nyeri Kepala Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia 2013 menyebutkan 90 persen penduduk Indonesia pernah mengalami nyeri kepala.

Nyeri kepala dibedakan atas nyeri kepala primer dan sekunder. Nyeri kepala sekunder akibat adanya kerusakan jaringan pada daerah setempat karena penyakit tertentu. Nyeri kepala primer terdiri dari migren, nyeri kepala tipe tegang dan nyeri kepala kluster.

Hasil studi populasi Balitbangkes Kemenkes RI, penderita migren di Indonesia mencapai 22,4 persen. World Health Organization (WHO) menempatkan migren sebagai penyebab disabilitas ketujuh di dunia.

Migren merupakan nyeri kepala primer sesisi, kedua sisi dan dapat pula tidak mempunyai spesifikasi dalam lokasi, umumnya sifat nyeri berdenyut, dengan keparahan sedang sampai berat, dapat disertai rasa mual dan atau muntah.Kemudian, menimbulkan ketidaknyamanan terhadap paparan cahaya atau suara, aktivitas fisik berdampak memperburuk keparahan nyeri kepala.

Menurut hasil formula dari Pakar Neurologi FKUI dalam disertasi doktor Dr. Salim Harris, Sp.S(K), FICA, Jakarta, baru - baru ini menjelaskan, Indeks vaskular migren (IVM) merupakan rumus baru yang didasarkan atas penilaian dengan menggunakan Doppler transkranial dengan modalitas ultrasonografi. Rumus IVM yang diciptakan ini telah divalidasi dan mendapatkan pengakuan dari pemerintah Republik Indonesia untuk menjadi hak atas kekayaan intetektual (HAKI) yang dikeluarkan oleh Kemenkumham RI 1 Januari 2017 dan telah mendapatkan piagam penghargaan kekayaan intelektual 2017 kategori non paten tercatat dari Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis (DIIB) Awards 2017 Universitas Indonesia.

Nilai IVM tersebut dapat dijadikan penilaian objektif untuk memastikan apakah seseorang yang diduga migren, benar menderita migren sesuai dengan gambaran pembuluh darah otak yang diperiksa. Dalam membuat diagnosis tersebut penilaian IVM dilakukan dengan menggunakan teknik ultrasonografi yaitu Doppler transkranial dengan cara menempelkan probe transducer 2MHz pada kepala bagian temporal untuk menilai perubahan aliran pembuluh darah otak penderita terduga migren dengan stimulasi menahan napas dan bernapas cepat, masing-masing selama 30 detik.

Dengan menggunakan aplikasi rumus IVM maka data yang didapat dari pemeriksaan Doppler transkranial tersebut dapat menjawab apakah seorang terduga migren benar-benar menderita migren. Migren telah diketahui sebagai faktor risiko terjadinya stroke. Tentu pemeriksaan IVM sangat bermanfaat untuk menjaring orang dengan benar migren agar mendapatkan pengobatan yang tepat.

Semakin lama migren tidak tertangani, semakin berat dan semakin sulit penanganan selanjutnya. Pemeriksaan IVM sangat menjanjikan untuk menjawab diagnosis migren secara objektif karena memiliki sensitivitas 94,23 persen dan spesifisitas 91,67 persen.

Dengan menggabungkan wawancara klinis (anamnesis) menggunakan IHS/MS-Q versi Indonesia yang baik dan pemeriksaan IVM, sensitivitas pemeriksaan ditingkatkan menjadi 98,08 persen.(tka)

Komentar

Embed Widget
x