Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 20 Januari 2018 | 14:24 WIB
 

Fun Theraphy Ajak Anak Kembali Bahagia

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Rabu, 27 Desember 2017 | 15:00 WIB
Fun Theraphy Ajak Anak Kembali Bahagia
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Tanggerang - Anak yang terpisah dari orangtuanya karena bercerai ataupun meninggal dunia, pastinya menyisakan kesedihan. Karena itu, dibutuhkan terapi psikologis untuk kembali optimis menjalani hidup.

Salah satu terapi yang dapat dilakukan anak - anak adalah fun theraphy. Menurut Pemilik Rumah Amalia di Ciledug, Muhammad Agus Syafii, fun theraphy adalah salah satu cara untuk memberikan sesuatu kepada anak dengan cara bermain. Baik untuk anak - anak yang kehilangan orangtuanya bercerai dan orangtua yang meninggal.

"Dengan kegiatan yang menyenangkan itu bisa membuat mereka bersyukur untuk hidup. Ketika dia semakin terpuruk keadaan yang dirasakan, maka di sini dengan kegiatan fun theraphy, kita mengajarkan hidup itu anugerah," papar Pemilik Rumah Amalia di Ciledug, Muhammad Agus Syafii saat ditemui di Rumah Amalia, Rabu (27/12/2017).

Masih menurutnya, terapi tersebut hanya dengan menggunakan permainan. Dengan bentuk pemulihan terapi ini anak - anak mendapatkan pola yang menyenangkan.

"Permainan ini seperti digunakan pada pelatihan, seperti tepuk bahagia, tepuk semangat. Kalau ini berbentuk kelompok ini sangat berbahagia bagi anak - anak. Bergaya seperti patung pancoran, dan lainnya," tambahnya.

Ketika sudah melakukan fun theraphy, Agus menambahkan, terdapat tiga pola kondisi yang diciptakan. Antara lain.

1. Dipaksa

Anak - anak diajak tertawa bersama dengan cara yang lembut. Dengan mereka terpaksa dia akan terbiasa. Kenapa terkondisi? Karena kita mengkondisikan semua ini. Kita membuat fun theraphynya untuk orangtua juga. Sehingga menyatukan persepsi antara orangtua dan anak.

"Jadi, sepahit apapun keadaannya, jadi setiap orang selalu berpikir positif," ujarnya.

2. Terpaksa

Jadi anak - anak terpaksa untuk mengikuti. Mau tidak mau, anak - anak ikut mengalir meski dengan terpaksa, akhirnya anak - anak bisa tertawa.

3. Terbiasa

Ketika mereka sedang tidak ada di rumah Amalia pun mereka bisa tertawa. Akhirnya mereka bisa terbentuk ritme pada dirinya untuk terbiasa berpikir positif.(tka)

Komentar

 
Embed Widget

x