Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 17 Desember 2017 | 11:06 WIB
Hide Ads

Belajar Filosofi Kopi Gayo di Sail Sabang 2017

Oleh : Arif Budiwinarto | Sabtu, 2 Desember 2017 | 04:13 WIB
Belajar Filosofi Kopi Gayo di Sail Sabang 2017
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Sabang - Berkunjung ke Nangroe Aceh Darussalam (NAD) kurang lengkap rasanya tanpa menyeruput nikmatnya segelas kopi Gayo sembari berbagi cerita bersama teman karib. Banyak nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam pekatnya hitam kopi Gayo.

Bagi masyarakat Aceh, kopi Gayo bukan hanya minuman pelengkap di kala berkumpul di warung-warung kopi, santai di teras rumah atau saat melepas lelah setelah beraktifitas. Lebih dari itu, kopi hitam yang terkenal punya aroma kuat dan rasa nikmat tanpa dicampur gula ternyata banyak mengajarkan falsafah hidup.

"Yang membedakan kopi Gayo dengan kopi lain di Indonesia adalah aroma dan rasanya yang lebih kuat, istilahnya saat dihirup itu langsung nonjok," ungkap Rasidin, seorang produsen kopi Gayo kepada INILAHCOM, Jumat (1/12/2017) siang WIB.

"Tradisi di Gayo, kopi itu jadi konsumsi utama. Orang bangun tidur, cuci muka langsung ngopi dulu baru sarapan," dia melanjutkan.

Rasidin menjelaskan rasa khas kopi Gayo terkadang menjadi perangsang seseorang untuk berpikir jernih dan juga sumber insipirasi.

"Bahasa saya, kopi Gayo ini membuat inspirasi timbul setiap kopi itu pikiran cerdas tidak ada bohong-bohong," tambahnya.

Hal senada diungkapkan Mahyudin, pemerhati sekaligus produsen kopi Gayo. Menurutnya, kopi Gayo mengajarkan nilai-nilai filosofis bukan hanya cita rasa, tetapi juga perasaan.

Kopi bukan soal cita rasa tetapi juga berbicara mengenai perasaan. Pada saat kopi dihidangkan, pasti yang minum akan bertanya siapa ini yang bikin kopi, kok rasanyaa bisa enak seperti ini. Beda dengan coca-cola atau kopi kemasan, siapa saja yang menyeduhnya pasti rasanya akan sama," terangnya.

Lebih jauh, Mahyudin juga menceritakan orang Gayo bisa menerka sifat dan perilaku seseorang dari kopi yang dihidangkannya.

"Sebagai contoh, misalkan Anda punya anak perempuan di rumah, lalu diminta membuatkan kopi kepada tamu yang datang. Dari rasa kopi yang dibuat apa enak atau tidak, dari situ bisa ketahuan mana yang membuatnya dengan ikhlas mana yang terpaksa," ia menambahkan.

Kopi Gayo Lebih Mendunia

Festival Kopi Gayo dan Kuliner menjadi salah satu supporting event di Sail Sabang 2017 yang berlangsung sejak tanggal 28 November hingga 5 Desember mendatang. Di area festival berjejer stand-stand kopi Gayo dengan berbagai variant. Pengunjung bisa mencium langsung aroma biji kopi Gayo, melihat proses penggilingan sederhana sampai menyicipi nikmatnya secangkir kopi Gayo.

"Variasi kopi Gayo ada Long Berry, Wine Berry, specialty, ada natural, ada luwak, banyak sih sekitar ada tujuh atau ada delapan. Ada juga robusta yang tumbuh di Gayo sekitar ada 15 persen," jelas Rasidin.

Rasidin berharap dengan pelaksanaan Sail Sabang 2017 sebagai event Sail terbesar di Indonesia bisa menjadi media promosi produk kopi Gayo agar semakin mendunia dan tentunya meningkatkan kesejahteraan petani kopi Indonesia.

"Sail Sabang ini sangat membantu kami terutama petani dan produsen untuk promosi keluar negeri, kami harapkan bisa terus berkembang bukan hanya kopi tetapi yang lainnya juga."

"Harapan saya kopi Gayo ini harus booming dulu di Indonesia baru boleh kemana-kemana, artinya di Indonesia kopi Gayo harus bisa dinikmati dulu di Indonesia sebagai kopi khas Indonesia," dia memungkasi. [*]

Komentar

 
Embed Widget

x