Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 24 November 2017 | 05:02 WIB

Hindari Resistensi

Konsumsi Antibiotik Harus dengan Resep Dokter

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Selasa, 14 November 2017 | 11:45 WIB
Konsumsi Antibiotik Harus dengan Resep Dokter
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Tidak jarang kita menemui masyarakat yang mengkonsumsi antibiotik tidak tuntas. Hal ini akan menimbulkan resistensi atau kebal dalam tubuh.

Menurut Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Dra. Maura Linda Sitanggang, PhD, gunakanlah antibiotik secara bijaksana dengan resep dokter. Hal tersebut mengandung pengertian bahwa, konsumsi antibiotik benar - benar harus sesuai dengan anjuran dan sesuai dengan resep yang diberikan dokter.

"Para apoteker juga tidak boleh sembarangan memberikan antibiotik tanpa resep dokter. Ini adalah salah satu langkah bijak untuk konsumsi antibiotik agar tidak sembarangan," paparnya saat ditemui di kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Selasa (14/11/2017).

Dia menambahkan, yang paling ditekankan adalah antibiotik bukan menjadi obat cadangan, atau obat persediaan di rumah. Karena, pada dasarnya, antibiotik diberikan oleh dokter kepada pasien dan harus dihabiskan.

"Penyimpanan obat dan cara mengamankan obat serta kepatuhan konsumsi harus diperhatikan," tambahnya.

Kemudian, antibiotik digunakan untuk infeksi bakteri bukan virus, patuh dengan aturan pakai termasuk durasi dan dosis adalah kunci penting agar tidak timbul resistensi dalam tubuh. Karena, masih menurutnya, jika tidak tuntas, bakteri dalam tubuh akan tetap timbul dan berkembang karena tidak dibasmi secara tuntas.

Terkadang, berkembang di masyarakat ketika mengalami sakit yang disebabkan oleh virus, harus mengkonsumsi antibiotik. Padahal anggapan itu sangat salah.

"Virus itu tidak ada obatnya, bukan diobati dengan antibiotik. Antibiotik termasuk kategori obat keras, karena itu harus dengan resep dokter. Contoh penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri adalah TBC, Gonorrhea, Typhus, Disentri. Contoh penyakit yang sering keliru dengan infeksi bakteri adalah batuk pilek, muntah dan diare," katanya.

Apa yang terjadi ketika konsumsi antibiotik? Ini akan menimbulkan sifat resistensi atau kebal ditularkan ke bakteri sejenis, atau populasi bakteri resisten akan semakin banyak menyebar. Karena itu, cegah dengan penggunaan antimikroba yang bijak dan menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat.

"Contoh simple adalah dengan rajin cuci tangan. Ini dapat mencegah perpindahan virus, istirahat yang cukup dan konsumsi makanan dengan gizi seimbang. Namun ketika sakit yang disebabkan oleh adanya bakteri, maka harus diobati dengan tepat sehingga mendapatkan resep dokter yang benar," ungkapnya.

Karena banyaknya kesalahpahaman dalam menggunakan antibiotik, menyebabkan bertambahnya kematian akibat dari resistensi terhadap obat. Ironisnya, penemuan antibiotik hingga kini semakin menurun, tetapi tingkat resistensi pada manusia semakin meningkat.

"Ini menjadi sebuah hal yang sangat sulit. Kematian semakin meningkat karena mengalami resistensi antibiotik. Karena itu, pemerintah menggencarkan Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (Gema CerMat) untuk mengkampanyekan kepada masyarakat agar cerdas dalam menggunakan obat dan selalu ingat antibiotik hanya dapat diperoleh dengan resep dokter," ujarnya.(tka)

Komentar

 
Embed Widget

x