Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 28 Juni 2017 | 19:23 WIB

Pap Smear, Pencegahan Terbaik Kanker Serviks

Oleh : Dr Reza Aditya Digambiro, M.Ke | Senin, 12 Juni 2017 | 13:33 WIB
Pap Smear, Pencegahan Terbaik Kanker Serviks
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

BAGAIMANA acara kita mencegah kanker serviks? Terdapat beberapa cara dan metodes krining yang sesuai untuk pencegahan penyakit ini. Seperti pemeriksaan Pap Smear, uji DNA HPV dan IVA test.

Keseluruhan pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat sel-sel abnormal pada serviks (leher rahim) dan dapat diterapi sebelum berubah menjadi kanker. Semua perempuan yang pernah berhubungan seksual, sebaiknya melakukan pemeriksaan pap smear, selambat-lambatnya dua tahun pasca-berhubungan seksual untuk pertama kalinya.

Uji DNA HPV yang mencari adanya virus HPV pada serviks, memiliki manfaat dalam skrining serviks, dimana virus HPV yang berpotensi menyebabkan sel-sel serviks menjadi abnormal dapat diidentifikasi. Sedangkan uji Pap Smear adalah pemeriksaan yang bertujuan memeriksa sel-sel serviks yang mengalami abnormalitas. Uji HPV ini bisa digunakan bersama-sama dengan uji Pap Smear. Pemeriksaan keduanya dalam waktu yang sama disebut HPV co-testing.

Di Indonesia ,Uji HPV terkendala karena biayanya cukup mahal. Di RSCM gabungan kedua pemeriksaan ini berkisar Rp750 ribu. Pap smear sendiri yang dilakukan sebagai pemeriksaan tunggal sebenarnya sudah cukup mampu untuk penatalaksanaan skrining kanker serviks yang baik dengan biaya yang relatif terjangkau.

Namun sosialisasi Pap Smear di masyarakat masih belum begitu efektif. Hal ini disebabkan banya hal, di antaranya kurangnya pelatihan yang dilakukan di Puskesmas-pukesmas untuk skrining Pap Smear, dan sebaran Dokter Spesialis Patologi Anatomi yang belum begitu merata di Indonesia, sebagai pemeriksa hasil Pap Smear.

Karena kendala-kendala tersebut, Kementerian Kesehatan pernah mencanangkan IVA test (Inspeculo Visual Asam Acetat) yang murah di Puskesmas-puskesmas untuk deteksi dini kanker serviks. Program ini pun tidak berjalan mulus dan terkesan tidak efektif. IVA test yang hanya mengandalkan pemeriksaan dengan mata telanjang pada leher rahim yang telah diolesi atau disemprot asam asetat hanya bisa dilakukan oleh mata pemeriksa yang sudah terlatih, dan cenderung memiliki angka kesalahan yang tinggi.

Kondisi perkembangan kanker serviks di Indonesia sudah seperti puncak gunung es, yang siap untuk meledak kapan saja. Saat ini persentase kanker serviks menempati posisi kedua terbanyak sebagai pembunuh kaum wanita di Indonesia, angka ini hanya terpaut sedikit dengan kanker payudara sebagai pembunuh utama wanita akibat kanker.

Pentingnya skrining, tertutupi oleh kepentingan para vendor vaksin HPV yang menggembar gemborkan pentingnya pemberian vaksin HPV, yang kurang efektif, karena banyaknya strain dari virus HPV yang tidak tercover oleh vaksin yang ada.

Singapura, sebagai negara yang telah lama menyadari bahaya kanker serviks di masyarakatnya, telah jauh lebih dahulu mewajibkan skrining Pap Smear pada seluruh warga negaranya yang berpotensi terkena kanker serviks. Hal ini berhasil menurunkan angka kematian akibat kanker serviks dari urutan kedua menjadi urutan kedelapan dalam waktu lima tahun.

Pap Smear dapat mendeteksi sel-sel yang abnormal sebelum menjadi ganas, setelah didapati sel-sel abnormal, selanjutnya dapat dilakukan cryo terapi (penatalaksanaan yang murah dan efisien dengan menyemprotkan gas helium yang membekukan lapisan abnormal dan menghancurkannya), hal ini dapat dilakukan di Puskesmas dengan tenaga yang sudah dilatih.

Perlu keseriusan pemerintah untuk memperluas cakupan Pap Smear di seluruh Indonesia, agar insiden kanker serviks dapat diturunkan, agar negara ini tidak lagi tertinggal dalam penatalaksanaan kanker secara umum, dan khusunya kanker serviks.

* Dokter Spesialis Patologi Anatomi, Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, tinggal di Jakarta.

 
Embed Widget

x