Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 25 November 2017 | 18:05 WIB

Menkes Prihatin Angka Perokok di Indonesia Tinggi

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Senin, 15 Mei 2017 | 18:45 WIB
Menkes Prihatin Angka Perokok di Indonesia Tinggi
Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Nilla F Moeloek - (Foto: Inilahcom/Didik Setiawan)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Nilla F Moeloek sangat prihatin dengan semakin meningkatnya perokok di Indonesia.

Epidemi konsunsi rokok di Indonesia yang telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Lebih dari sepertiga yaitu 36,3 persen, penduduk Indonesia dikategorikan sebagai perokok saat ini. Di antara remaja usia 13 - 15 tahun, terdapat 20 persen perokok, yang mana 41 persen diantaranya adalah remaja laki - laki dan 3,5 persen remaja perempuan.

"Angka yang merokok di Indonesia selalu meningkat. Dan tahun 2013 sebanyak 36 persen dan 2016 sebanyak 54 persen yang merokok," kata Menkes RI Nila F Moeloek, dalam sambutan di 4th Indonesian Conference on Tobacco or Health di Jakarta, Senin (15/05/2017).

Karena itu, Menkes RI sangat mendukung penyelenggaraan The 4th Indonesian Conference on Tobacco or Health (ICTOH) selama tiga hari, mulai 14 - 16 Mei 2017. Acara tersebut adalah bentuk sinergi antara Kementerian Kesehatan RI, Tobacco Control Support Center (TCSC) dan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).

Pertemuan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan diselenggarakan dalam rangka World No Tobacco Day atau Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) tahun 2017 yang diperingati setiap tanggal 31 Mei setiap tahun.

Masih menurut Menkes, kebiasaan merokok di Indonesia telah membunuh setidaknya 235.000 jiwa setiap tahunnya dan memicu penyakit - penyakit yang memerlukan biaya pengobatan cukup besar. Berdasarkan hal tersebut pula banyak pihak mengkhawatirkan kasus PTM dapat menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan jaminan kesehatan nasional (JKN).

Saat ini, prevelensi merokok yang tinggi pada kalangan remaja akan menurunkab kualitas generasi penerus bangsa sehingga menjadi ancaman besar bagi keberhasilan pencapaian bonus demografi Indonesia Hal ini tentu akan menghambat laju pembangunan bangsa.

Perlu diketahui, Indonesia mengalami bebab biaya yang tertinggi dari penyakit tidak menular dengan jumlah Rp6,9 triliun dan bahkan Rp 7,6 triliun. Masih menurut Menkes RI, melihat hal tersebut sangat penting juga dalam pencegahan seperti upaya promotif dan preventif agar tidak banyak penyakit tidak menular yang menjangkit di dalam tubuh. (tka)

Komentar

 
Embed Widget

x