Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 25 September 2017 | 22:10 WIB

Rokok Elektrik Lebih Berbahaya dari Rokok Biasa

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Minggu, 14 Mei 2017 | 08:30 WIB
Rokok Elektrik Lebih Berbahaya dari Rokok Biasa
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Belakangan rokok elektrik menjadi tren yang banyak digunakan orang. Ternyata konsumsi rokok elektrik lebih berbahaya dari rokok biasa. Mengapa?

Epidemi konsumsi rokok di Indonesia mencapai titik yang mengkhawatirkan. Lebih dari sepertiga 36,3 persen penduduk Indonesia dikategorikan sebagai perokok saat ini. Diantara remaja usia 13 - 15 tahun, terdapat 20 persen perokok dimana 41 persen diantaranya adalah remaja laki - laki dan 3,5 persen remaja perempuan.

Menurut dr. Theresia Sandra Diahratih, MHA Kasubdit Pengendalian Penyakit Kronis dan Degeneratif, direktorat Pencegahan & Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes RI, menjelaskan rokok elektrik yang saat ini banyak ditemukan juga sangat berbahaua sama dengan rokok biasa. Hal tersebut karena banyak sekali bahan yang dapat di campurkan ke dalam alat rokok elektrik tersebut.

"Rokok elektrik itu bisa diisi dengan bahan - bahannya dua kali lipat bahkan lebih," kata dr. Theresia Sandra Diahratih, MHA saat ditemui di kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Jumat (12/05/2017).

Senada dengan hal tersebut, Direktur Promosi Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, dr. HR. Dedi Kuswenda, M.Kes menambahkan isi dari rokok elektrik tersebut bisa diganti dengan bahan lain. Hal ini sangat ditakutkan dan berbahaya.

"Rokok elektrik itu kan ada isinya. Isinya bisa diganti dengan narkoba. Itu yang berbahaya," papar Dedi Kuswenda.

Kebiasaan merokok di Indonesia telah membunuh setidaknya 235.000 jiwa setiap tahunnya dan memerlukan biaya pengobatan yang cukup besar. Tahun 2014, sekitar 4,8 juta kasus penyakit jantung mencapai 8,189 T, dan 894 ribu kasus penyakit kanker di klaim mencapai 2 T, sedangkan tahun 2015, mencapai 3,9 juta kasus penyakit jantung, sekitar 5,462 T, dan 724 ribu kasus kanker dengan klaim sampai 1,3 T. (tka)

 
Embed Widget

x