Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 24 Oktober 2017 | 18:17 WIB

Ini Solusi Atasi Gangguan Pendengaran

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Rabu, 25 Januari 2017 | 14:30 WIB
Ini Solusi Atasi Gangguan Pendengaran
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Gangguan pendengaran tidak hanya dialami orang dewasan tapi juga pada anak - anak. Sangat penting melakukan deteksi dini gangguan pendengaran untuk penanganan yang lebih cepat dan tepat.

Masalah gangguan pendengaran di Indonesia membutuhkan perhatian khusus. Berdasarkan data WHO, satu dari 1.000 kelahiran bayi di Indonesia mengalami gangguan pendengaran.

Masalah gangguan pendengaran ini sangat menganggu produktifitas dan membuat penderitanya terisolasi dari lingkungan. Pada anak-anak, dampak gangguan pendengaran dapat membatasi masa depannya karena kehilangan kemampuan mendengar dan berbicara sehingga dapat mempengaruhi perkembangannya hingga dewasa.

"Prevalensi kasus gangguan pendengaran di Indonesia sebanyak 4,6 persen, dengan estimasi penderita gangguan pendengaran sebanyak 9,6 juta orang. Indonesia mempunyai kasus gangguan pendengaran yang kedua tertinggi di Asia Tenggara selepas India, sekitar 630 juta penderita," kata Direktur Medik dan Keperawatan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr. dr. Ratna Dwi Restuti, Sp.THT-KL(K) seperti yang dikutip dari siaran pers, Jakarta, Rabu (25/01/2017).

Kemudian, deteksi gangguan pendengaran sedini mungkin sangatlah penting untuk menentukan penanganan yang tepat dan mendapatkan solusi terbaik untuk mengatasinya.

Koklea merupakan organ pendengaran yang berfungsi mengirim pesan ke syaraf pendengaran dan otak. Suara ditangkap daun telinga kemudian dikirim ke tulang pendengaran dan bergerak menuju koklea.

Operasi koklea atau rumah siput merupakan tindakan menanam elektroda untuk organ pendengaran yang berisi saraf-saraf pendengaran yang terletak di telinga dalam. Elektroda inilah yang yang menggantikan fungsi koklea sebagai organ pendengaran.

Operasi ini diperuntukkan bagi penderita tunarungu yang tidak tertolong dengan pemakaian alat bantu dengar biasa. Dengan demikian, Implan koklea dapat memperbaiki bagian telinga bagian dalam secara maksimal sehingga memungkinkan pasien mampu mendengar dengan baik.

"Dampak yang ditimbulkan akibat gangguan pendengaran cukup luas dan berat jika tidak ditangani dengan tepat, yaitu mengganggu perkembangan kognitif, psikologi dan sosial. Untuk itu, kesadaran mengenai dampak gangguan pendengaran sangatlah penting untuk terus ditingkatkan agar masyarakat di Indonesia mengetahui solusi yang tepat untuk penanganan masalah gangguan pendengaran," ujar Staf Departemen Telinga, Hidung dan Tenggorokan (THT) Bedah Kepala Leher RSCM - FKUI, dr. Harim Priyono, SpTHT-KL(K).

Lebih lanjut dr. Harim Priyono, SpTHT-KL(K) menjelaskan tentang implantasi koklea.

"Implantasi koklea telah menjadi prosedur yang sering dilakukan di Indonesia. Di RSCM Kencana, pada periode 2009 hingga 2016 telah menangani operasi implan koklea untuk 80 pasien. Konsep layanan implantasi koklea di RSCM Kencana merupakan suatu kerja tim serta dengan alur tatalaksana yang melibatkan multidisiplin ilmu medis dan non-medis diataranya Spesialis neurologi anak, Spesialis neurologi (pasien dewasa), Spesialis penyakit dalam (pasien dewasa), Spesialis radiologi, Spesialis anestesi, Spesialis tumbuh kembang anak, Farmasis Klinik dan Spesialis psikiatri anak (psikolog)," papar dr. Harim Priyono, SpTHT-KL(K).

Selain itu, agar implantasi berjalan dengan lancar juga diperlukan penyesuaian pengaturan dan kualitas suara sebagai tindak lanjut pasca operasi. Di bulan-bulan setelah operasi implantasi, beberapa sesi penyesuaian akan diminta untuk secara bertahap meningkatkan kualitas informasi suara.

"Cochlear Indonesia sebagai bagian dari Cochlear Ltd yang merupakan perusahaan implan pertama & terbesar di dunia, sejak 2007 telah bekerjasama dengan Kasoem Hearing & Speech Centre untuk menyediakan solusi gangguan pendengaran komprehensif terutama melalui teknologi implan koklea bagi masyarakat Indonesia," ungkap Country Manager Cochlear untuk Indonesia, Vietnam dan Filipina, Bambang Nur Indrawan.

Komentar

 
Embed Widget

x