Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 23 Juni 2017 | 15:34 WIB

Ini Cara Merangkul Lansia Penderita Diabetes

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Minggu, 11 Desember 2016 | 01:30 WIB
Ini Cara Merangkul Lansia Penderita Diabetes
Dr.Siska Gerfianti, MHKes Kepala UPT Puskesmas Talaga Bodas, Bandung - (Foto: inilahcom/Mia Kartikawati)
facebook twitter

INILAHCOM, Bandung - Tidak mudah merangkul masyarakat lanjut usia (Lansia). Terutama yang menderita diabetes. Lantas, bagaimana cara memberikan edukasi kesehatan pada mereka?

Puskesmas Talaga Bodas, Bandung, punya cara tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Menurut Dr. Siska Gerfianti, MHKes, selaku Kepala UPT Puskesmas Talaga Bodas, Bandung, menjelaskan, memang penuh kesabaran untuk menarik orangtua agar datang ke Puskesmas guna mengikuti edukasi kesehatan. Kegiatan tersebut termasuk salah satu yang dicanangkan Puskesmas Talaga Bodas, dikenal dengan sebutan Prolanis (Program Penyakit Kronis).

Tidak hanya diabetes, para penderita hipertensi atau darah tinggi pun menjadi sasaran dalam program yang dijalankan Puskesmas tersebut sejak 2012.

"Tantangan bagaimana mengedukasi lansia adalah, ternyata sebetulnya tipsnya seperti ini. Kami lihat bahwa pesan itu lebih cepat ketika diberikan dua bulan sekali kepada para lansia. Tidak boleh bersifat mengajari atau menggurui. Mereka tidak ingin digurui atau disuruh - suruh. Salah satu edukasi yang diberikan adalah bagaimana cara menghitung kalori dalam setiap makanan," kata Dr.Siska Gerfianti, MHKes Kepala UPT Puskesmas Talaga Bodas, Bandung, Sabtu (11/12/2016).

Menampilkan photo 2.JPG

Setelah diberikan materi edukasi selama dua bulan sekali, lalu materi tersebut diulang lagi. Hal ini agar para penderita penyakit kronis khususnya diabetes dan hipertensi mengerti apa yang disampaikan.

"Materi yang diberikan harus diulang - ulang. Materi jangan banyak - banyak diberikan. Kalau buat lansia hanya empat slide atau materi saja, sisanya kami berdiskusi," tambahnya.

Cara selanjutnya adalah bagaimana membuat role model. Ini sangat penting. Jika mencari role model dokter, perawat dan lainnya tidak akan sampai tujuan pesan yang dimaksud kepada para penderita penyakit.

Lebih baik, masih menurut Siska, mencari role model yang juga merupakan anggota Prolanis. Ini sangat memudahkan para anggota lain yang lansia meniru bagaimana gaya hidup sehat yang dijalankan teman sesama penderita penyakit dan sudah lebih dahulu berhasil mengatasi masalah kesehatan.

"Kami ciptakan adalah role model. Kami cari satu orang yang leader dari anggota prolanis. Dia ditampilkan sebagai testimoni. Itu mendongkrak sekali. Jadi para lansia yang masuk prolanis di Puskesmas meniru leader-nya yang sudah mulai menjalankan gaya hidup sehat dan berhasil," ungkap Siska.

Kemudian, terdapat pula cara hands on. Ini mengarah kepada cara mengajarkan menghitung total karbohidrat dari setiap makanan dikonsumsi. Contohnya, apakah boleh penderita Diabetes Mellitus (DM) mengkonsumsi pizza?

"Saya jawab boleh. Tetapi, misalnya makan satu slice pizza itu setara dengan dua kali makan nasi. Jadi, boleh makan pizza satu slice dan tidak makan nasi lagi pada sore dan malam hari. Bisa makan malamnya sayuran saja," ujarnya.

Meski awalnya sangat sulit untuk menjalankan program Prolanis, usaha dari tim Puskesmas Talaga Bodas akhirnya membuahkan hasil. Pada awal program yang dibentuk tahun 2014, hanya meraup sekitar lima ribu anggota. Kini, total keseluruhan anggota sudah mencapai 40 ribu.

 
Embed Widget

x