Minggu, 26 Oktober 2014 | 05:47 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Uban Penuh di Kepala, Stres atau Perubahan Gen?
Headline
(Foto : istimewa)
Oleh: Dahlia Krisnamurti
gayahidup - Senin, 13 Mei 2013 | 17:27 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Uban atau memutihnya rambut memang amat menggangu karena bisa merusak penampilan, terlebih bagi mereka yang ingin terlihat tampil gaya.

Banyak pendapat berkembang di masyatakat yang bercampur aduk tentang rambut beruban. Ada yang mengatakan karena umur yang semakin bertambah adalah salah satu penyebab perubahan warna rambut yang hitam menjadi putih atau beruban semakin cepat.

Dan ada juga beberapa masyarakat yang mengatakan bahwa stres dan banyak pikiran menjadi salah satu penyebab rambut putih tumbuh subur di kepala.

Bahkan, tak hanya itu saja, beberapa waktu lalu, Presiden Amerika Barack Obama mengklaim jika rambut putih yang tumbuh di kepalanya ini karena stres. Suami dari Michelle Obama ini mengklaim jika uban di kepalanya karena perubaham warna gen.

Beberapa waktu lalu, Universitas Duke melakukan penelitian dan mengungkap kalau stres menjadi salah satu pemicu munculnya uban pada usia muda.

Penelitian itu menunjukkan bagaimana tekanan pada pikiran dapat memicu tubuh untuk memproduksi zat yang dapat merusak DNA, sehingga mempengaruhi kondisi fisik. Tak hanya itu, keturunan adalah faktor dominan yang mengendalikan proses beruban.

Sementara The Journal of Investigative Dermatology menunjukkan kalau rata-rata orang Asia akan beruban di usia 30-an tahun, dan Afrika pada pertengahan 40-an tahun.

Faktor inilah yang membuat para ahli juga mengatakan tidak setuju kalau stres menjadi penyebab utama uban. Teori dasar uban menyatakan kalau rambut yang berubah warna secara alami karena faktor seseorang semakin tua bukanlah karena stres.

Folikel rambut mengalami 10-30 siklus reproduksi selama hidup dan tahap berikutnya, rambut menghasilkan lebih sedikit enzim yang disebut katalase.

Dan orang-orang yang lebih tua memiliki katalase yang sedikit dan kelebihan peroksida di setiap folikel rambutnya.

Menurut ahli biologi Gerald Weissmann dari biology publication FASEB Journal mengatakan, kalau tidak ada bukti dalam literatur ilmiah yang menunjukkan kalau uban dipengaruhi stres.

"Lihatlah rambut orang-orang di Mesir atau Libya, walaupun mereka sudah tua dan negara konflik, namun rambut mereka bagus tidak ada yang beruban," kata Weissmann yang yakin sekali kalau uban adalah akibat pengaruh gen.

Namun tidak semua orang sepakat dengan pernyataan Weissmann itu. Andrzej Slominski, seorang dermatopathologist di University of Tennessee Health Science Center, setuju kalau gen memiliki pengaruh kuat pada usia yang membuat rambut berubah warna.

Namun menurut Slominski, ada bukti kuat yang mengatakan kalau lingkungan dapat mempengaruhi stres juga.

"Ada hubungan antara stres dan beruban. Fenomena ini dijelaskan selama Perang Dunia Kedua dengan tentara yang memiliki beruban," kata Slominski.

"Meskipun bukti menunjukkan kalau stres mengubah warna rambut, ini adalah mekanisme yang jelas," tambah Slominski.

Ralf Paus, dari University of Luebeck, meneliti kalau hormon stres dapat menyebabkan produksi radikal bebas. Hal ini dapat merusak melanosit, pigmen yang memproduksi sel-sel dalam folikel rambut yang memberikan perubahan warna rambutnya. [berbagai sumber/mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER