Jumat, 25 Juli 2014 | 13:43 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Awas! Minum 'Teh Arab' Terkontaminasi Narkoba
Headline
Ist
Oleh: Dahlia Krisnamurti
gayahidup - Selasa, 5 Februari 2013 | 17:40 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Minum teh sudah menjadi tradisi di Indonesia. Pasalnya, teh yang hadir dalam beragam jenis selain memiliki rasa yang khas juga mengandung khasiat bagi kesehatan.

Namun, bagaimana dengan keberadaan 'teh Arab' yang banyak terdapat di kawasan Puncak ,Jawa Barat?

Setelah kasus Raffi Ahmad mencuat tanaman yang banyak ditanam sebagai pembatas halaman atau pagar ini menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Pasalnya, teh ini diduga mengandung zat psikotropika jenis Cathinone.

Direktur Reserse Narkoba Polda Jabar Kombes Pol Hafriyono memastikan hal itu setelah sampel yang diteliti di Puslabfor Mabes Polri keluar kemarin malam.

“Setelah diteliti ternyata memang benar tanaman itu mengandung senyawa kimia Katinona dan Katina,” katanya, belum lama ini.

Tanaman Khat ini lebih dikenal masyarakat sebagai teh Arab. Daun tanaman Khat ini semakin terkenal setelah mencuatnya kasus narkoba yang menimpa artis ternama Indonesia yaitu Raffi Ahmad. Diduga narkoba yang digunakan oleh Raffi Ahmad berasal dari tanaman ini.

Sebenarnya di Indonesia tanaman ini telah dikenal lama sekali. Tanaman yang berasal dari Yaman ini dipercaya mampu meningkatkan stamina tubuh dan mengobati penyakit diabetes dan menangkal lemak. Orang dari daerah Timur Tengah biasa mengkonsumsi daun ini dengan cara dikunyah secara langsung sebagai lalapan.

Gelisah hingga jantung berdebar

Penggunaan katinona berlebihan dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan, gelisah, lekas marah, insomnia, halusinasi dan serangan panik. Pengguna kronis berisiko terkena gangguan kepribadian dan menderita infark miokard.

Mefedrona, yaitu turunan katinona yang tidak terbentuk secara alami, lebih potensial untuk melepaskan serotonin dibandingkan dengan katinona atau metkatinona, sehingga efek penggunaannya setara dengan ekstasi.

Orang-orang yang menggunakan obat-obatan ini bisa diuji serum atau uji urine untuk membuktikan kandungan katinona dan norepedrina; metabolit utamanya.

Sementara, Ketua Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) DR.dr. Nafrialdi, PhD, SpPD, SpFK menambahkan, efek penggunaan zat ini bisa langsung menuju pada pusat saraf, maka di sistem kardiovaskular atau jantung dan pembuluh darah menjadi lebih cepat.

Selain itu, mampu merangsang jantung berdebar-debar lebih cepat, serta membuat tensi tinggi. "Bisa terjadi kelainan jantung, ginjal, pembuluh darah pecah, hingga bisa stroke," tambahnya. [berbagai sumber/mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER