Jumat, 24 Oktober 2014 | 23:51 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Awas! Tekanan Darah Tak Beraturan Picu Stroke
Headline
ilustrasi
Oleh: Dahlia Krisnamurti
gayahidup - Senin, 24 September 2012 | 14:15 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM,Jakarta - Orang yang sering menderita hipertensi memiliki risiko tinggi terkena serangan stroke, apalagi jika tekanan darahnya terus tak beraturan.
Hipertensi adalah kenaikan tekanan darah, baik sistolik mapun diastolik, sama atau lebih dari 140/90 mmHg. Para peneliti dari Universitas Oxford, Inggris, menemukan bahwa tekanan darah yang terus berubah-ubah justru lebih berbahaya dan berisiko stroke.
”Pada beberapa orang hipertensinya sangat stabil, tetapi tekanan darah yang bervariasi, kadang naik dan kadang sangat tinggi lebih, berbahaya daripada yang stabil,” kata Dr Peter Rothwell, profesor neurologi dari Universitas Oxford, dalam jurnal The Lancet dan The Lancet Neurology.
Dalam risetnya, ia mengamati tekanan darah tinggi dan variabilitasnya pada 2.000 responden yang dibagi dalam empat kelompok, masing-masing pernah mengalami stroke minor yang disebut transient ischemic attatck (TIAs).
Rothwell menemukan bahwa orang yang punya variasi sistolik sangat tinggi (lebih tinggi dari 120/80) atau dalam tujuh kali kunjungan ke dokter tekanan darahnya bervariasi, lebih berisiko terkena stroke.
”Selama ini dampak dari variasi hipertensi kurang diperhatikan. Seharusnya dokter membuat diagnosis berdasarkan tekanan darah pasien pada tiap kunjungannya,” katanya.
”Petunjuk klinis yang ada selama ini membuat dokter kurang mengindahkan hipertensi yang tidak tetap, padahal peningkatan tekanan darah yang tinggi dan kadang-kadang juga berisiko tinggi terkena stroke dan penyakit vaskuler lainnya. Karena itu, jangan terlena dengan kadar tekanan darah yang terkadang normal tetapi pada saat lain naik,” ungkap Rothwell.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia sekaligus Kardiologis Senior dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, dr Arieska Aan Soenarta, Sp.JP mengatakan dalam penatalaksanaan hipertensi tidak hanya tekanan darah sesaat saja yang diperhatikan akan tetapi perilaku tekanan darah sepanjang waktu tertentu yang penting untuk diperhatikan dimana hal tersebut berhubungan dengan prognosa organ organ target yang dipengaruhi oleh hipertensi.
" Karena menyerang tanpa gejala. Hipertensi merupakan faktor resiko utama penyebab penyakit jantung dan pembuluh darah. Setiap dua detik, satu orang meninggal karena penyakit jantung dan pembuluh darah”, kata dr Arieska di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurut dr Arieska, edukasi seperti seminar dan workshop serta deteksi dini amatlah diperlukan, agar penderita dapat mengenal lebih jauh akan penyakit hipertensi.
"Salah satu kegiatan InaSH selain workshop hipertensi yang sudah berjalan baik yang dilakukan di beberapa daerah di Indonesia, kegiatan lain adalah kerjasama dengan beberapa instansi untuk meng highlight hal hal yang merupakan informasi terbaru atau breaking news di bidang hipertensi bagi kalangan medis," jelas dr Arieska.
Prof. Wiguno Prodjosudjadi MD, Phd dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo menambahkan, selama ini nilai tekanan darah absolute dianggap penting dalam memprediksi risiko. Penelitian-penelitian membuktikan bahwa variabilitas tekanan darah ternyata tidak kalah penting dalam memprediksi risiko.
Namun, sambung dr Arieska, berbagai rekomendasi, guideline dalam diagnosis dan pengelolaan hipertensi, masih berdasarkan pengukuran tekanan darah klinis secara terisolasi. Evaluasi risiko kardiovaskular yang terkait tekanan darah, didasarkan pada pengukuran tekanan darah rerata.
""Karenanya, penting untuk melakukan ambulatory BP monitoring (ABPM). Banyak manfaat dari teknik ini dan cara ini bisa memberikan profil tekanan darah dalam 24 jam," ujar dr Arieska.
Lebih lanjut, Prof Wiguno menjelaskan, mekanisme terjadinya variabilitas tekanan darah tidak sepenuhnya diketahui. Namun, beberapa bukti memperlihatkan bahwa faktor perilaku, neural, refleks dan humoral, serta kepatuhan terhadap pengobatan antihipertensi mempengaruhi fenomena ini.
Hasil sub studi ASCOT-BPLA menunjukkan, amlodipin /perindropil lebih efektif menurunkan variabilitas tekanan darah sistolik, dari beta blocker/thiazide pada pasien hipertensi.
Pada kedua kelompok, pengobatan dengan tekanan darah rerata yang dapat terkontrol dengan baik, risiko kejadian vaskular meningkat lima kali lipat, jika variabilitas tekanan darah sistolik dalam setiap kunjungan tinggi.
Penurunan variabilitas tekanan darah yang lebih baik, berpengaruh pada angka kejadian stroke dan kardiovaskular yang ditunjukkan oleh amlodipin/ perindropil dibandingkan beta blocker/thiazide dalam sub studi ini. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER