INILAH.COM, Jakarta - Menyusui bayi ternyata tak hanya memberi keuntungan besar bagi si bayi saja, tapi juga untuk si ibu. Jadi para ibu jangan ragu untuk terus memberi ASI eksklusif kepada bayi hingga maksimal dua tahun.
“Ini bukan demi si bayi saja, tapi juga untuk si ibu sendiri. Jadi selain melindungi hak bayi untuk mendapatkan ASI Eksklusif, kegiatan menyusui juga sangat berarti untuk meningkatkan kualita si ibu sendiri,” terang dokter Utami Roesli SpA IBCLS FABM dari The Indonesia Breastfeeding
Center dalam diskusi bertajuk Perlindungan Hak Menyusui bagi Wanita Bekerja yang diadakan Gerakan Kesehatan Ibu & Anak (GKIA) belum lama ini.
Keuntungan yang diperoleh, jelasnya, tak hanya berdampak pada kesehatan fisik saja tapi juga kesehatan psikologis atau mental si ibu.
Mengutip beberapa temuan dan penelitian sejumlah pakar kesehatan di berbagai negara, Utama menyebut, ibu yang bisa dan diberi kesempatan untuk memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya setindaknya akan mengurangi pendarahan setelah melahirkan dan menghindari kurang darah atau anemia, mengurangi risiko kanker payudara, menguransi risiko kanker rahim, mengurangi risiko diabetes mellitus, mengurangi osteoporosis, mengurangi risiko rheumatoid arthritis, mengurangi risiko obesitas.
“Merupakan metode KB paling aman, mengurangi stres dan kegelisahan serta mengurangi 4,8 kali tindakan kekerasan dan menelantarkan anak,” papar Utami lagi.
Tak hanya soal kesehatan, pemberian ASI ditemukan juga dapat menolong mengurangi kemiskinan dan kelaparan. Utami memaparkan hitung-hitungan, misalkan harga satu kaleng formula sebesar Rp65.500, sementara bayi lahir di Indonesia setiap tahunnya mencapai lima juta dan dihitung dalam enam bulan itu bayi menghabiskan 55 kaleng susu formula.
“Maka dalam enam bulan dengan susu formula akan menghabiskan anggaran sebesar Rp18,012 triliun, dimana tiap bayinya memerlukan sekitar Rp3,6 juta. Ini memerlukan lebih dari 100% dari keluarga berpendapatan Rp500 ribu perbulan atau Rp3 juta per enam bulan,” jelasnya. [mor]