Senin, 28 Juli 2014 | 15:16 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Tak Ada Tempat Khusus, ASI Diperas di Toilet!
Headline
IST
Oleh: Santi Andriani
gayahidup - Jumat, 3 Agustus 2012 | 13:35 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Kepedulian terhadap pelaksanaan program pemberian ASI Eksklusif ternyata belum dilaksanakan sepenuh hati baik oleh pemerintah atau kalangan swasta.

Nyatanya dari 37 perkantoran pemerintah hanya empat yang sudah menyediakan ruangan khusus untuk menyusui dan dari 18 perkantoran swasta baru dua yang menyediakan.

Temuan itu berdasarkan penelitian yang dilakukan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia Indonesia pada akhir 2011 terkait pemantauan implementasi kebijakan menyusui di kabupaten-kabupaten Binaan Save the Children yaitu di kabupaten Bireun dan Bener Meriah di Aceh, di kabupaten Bekasi, Kerawang dan Padalarang di Jawa Barat dan kabupten Kupang di Nusa Tenggara Timur.

“Kesadaran pihak swasta masih agak jauh dari kantor pemerintah, walaupun sebenarnya sangat menyedihkan karena bahkan pemerintah pun tidak mendukung program yang diterapkan oleh pemerintah sendiri,” sesal Mia Sutanto SH, konselor menyusui yang juga Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dalam diskusi Perlindungan Hak Menyusui bagi Wanita Bekerja yang diadakanGerakan Kesehatan Ibu & Anak (GKIA), Kamis (2/8).

Sementara hanya delapan kantor pemerintah yang memiliki ruangan namun bukan khusus ruangan menyusui dan hanya 3 kantor swasta yang menyediakan itu.

Penelitian juga mengungkapkan hanya satu perkantoran pemerintah yang membuat kebijakan tertulis mengenai pelaksanaan program pemberian ASI Eksklusif dan tidak ada sama sekali perkantoran swasta yang membuat kebijakan itu.

Padahal aturan itu berikut sanksi yang bisa diberikan jika tidak diterapkan, sudah diatur dalam beberapa perangkat hukum, seperti diantaranya PP No 33/2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Ekslusif. Yaitu mulai dari sanksi administrasi hingga pencabutan izin operasional.

Masih berdasarkan keterangan respoden yang mereka libatkan, terang Mia, di perkantoran yang tidak menyediakan tempat khusus maupun tidak khusus untuk menyusui, para ibu menyusui itu harus memeras ASI di kamar mandi, tempat yang tentu tidak layak dari segi kebersihan untuk kegiatan yang harus steril itu.

Selain di kamar mandi, mereka juga harus memeras ASI-nya di ruangan lain seperti di musholla, ruang penyimpanan alat tulis kantor, gudang, dan ruang ganti satpam.

Mia pun setuju agar pemerintah segera membentuk badan khusus untuk mengawasi pelaksanaan program pemberian ASI Eksklusif tersebut, sehingga ke depan tidak adalah lagi fakta bahwa ibu memeras susunya di toilet.

“Jelas, toilet bukan tempat yang higienis untuk memeras ASI. Perlu penegakan hukum dan sanksi yang tegas agar ke depan tidak ada lagi yang seperti ini. Pemberian ASI adalah hak, bukan perlakuan khusus, jadi harus dipenuhi, kalau tidak ini sama saja pelanggaran hukum karena ini diatur dalam UU,” tegasnya. [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER