INILAH.COM, Jakarta - Apapun bentuk kekerasan dalam rumah tangga memang tidak bisa dibenarkan dan harus dihentikan atau dilaporkan. Karena ini akan menyakiti secara fisik dan psikologis.
Secara fisik, kekerasan rumah tangga yang mungkin dialami oleh perempuan seperti pemukulan, penamparan atau lainnya tentu akan meninggalkan bekas pada bagian tubuh yang kena.
Dampaknya, wanita sering kali jadi malu untuk ke luar rumah atau berusaha menutupi bekas lukanya sehingga tidak mengundang kecurigaan warga sekitar. Lalu bagaimana jika kekerasan itu terjadi di wajah dan meninggalkan bekas yang sangat nyata terlihat?
Seperti dilansir dari dailymail.co.uk, seorang penata rias artis otodidak Lauren Lukas mengunduh video ke Youtube yang mengajarkan sekaligus mendemostrasikan bagaimana langkah-langkah merias wajah untuk setidaknya menyamarkan bekas luka akibat kekerasan yang dialami wanita dalam rumah tangga.
Dalam video yang sifatnya layanan publik dan dilakukan bekerja sama dengan Refuge berbasis di Inggris, dia memiliki tujuan untuk mengirim pesan kepada wanita di seluruh dunia: bahwa 65 persen perempuan yang menderita kekerasan dalam rumah tangga faktanya tetap bersembunyi. ‘Jangan menutupinya," katanya
Dalam video itu, dengan bekas luka memar di mata yang tentu adalah buatan dengan riasan, Lauren Lukas memberi kiat untuk membuat smokey eyes atau setidaknya tetap cocok dengan pakaian yang mereka gunakan.
Dia menjelaskan bagaimana penggunaan alas bedak untuk menutupi memar. Video Lukas pun banyak dilihat pemirsa.
Motivasi Lukas untuk membuat video tersebut adalah didorong berdasarkan pengalaman pribadi ibunya yang pernah mengalami kekerasan psikologis dari pacarnya dulu.
"Saya memiliki pengalaman buruk di masa lalu dengan pacar sebelumnya. Dia tidak pernah menyakiti saya secara fisik tapi aku kadang-kadang takut apa yang akan terjadi selanjutnya jika saya mengatakan hal yang salah. Dia bisa menjadi overprotective dan mempermalukan saya di depan rekan kerja saya atau teman karena perilaku agresif, " jelasnya.
“Kadang-kadang rasanya seperti hidup dengan sebuah gunung berapi yang bisa meletus setiap saat - saya merasa saya berjalan di atas kulit telur hanya untuk menjaga dia dari meledak dan menghancurkan sesuatu di seberang ruangan," tandasnya.
Lukas mengatakan, "Untuk membuka diri dan jujur tentang sesuatu seperti ini membuat kita merasa lemah di antara teman-teman dan keluarga, tetapi dalam kenyataannya tidak ada yang lemah tentang hal itu,” ujarnya. [mor]