Selasa, 21 Mei 2013 | 18:15 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Awas! Kanker Serviks Banyak Incar Usia Produktif
Headline
IST
Oleh: Dahlia Krisnamurti
gayahidup - Kamis, 28 Juni 2012 | 22:05 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Sama seperti kanker payudara, kanker serviks juga menjadi momok menakutkan bagi wanita. Selain mematikan dan belum ada obatnya, penyakit ini juga banyak mengincar usia produktif.

Berdasarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO), kanker serviks menempati peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di dunia.

Selain itu, data badan kesehatan dunia menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah kasus kanker serviks tertinggi di dunia. Hampir setiap tahun terdeteksi lebih dari 15.000 kasus kanker serviks di Indonesia, dengan sekitar 8.000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian.

Kanker serviks sering kali tidak menimbulkan gejala atau keluhan sampai taraf yang sudah lanjut atau parah, sehingga banyak upaya pengobatan yang dilakukan sudah terlambat.

Hal ini juga didukung anggapan umum yang salah mengenai penyebab kanker serviks. Banyak kaum perempuan merasa tidak berisiko karena mereka menjalani hidup sehat serta tidak berganti pasangan. Padahal fakta menunjukkan bahwa setiap perempuan tanpa memandang usia dan latar belakang, berisiko terkena kanker serviks.

Selain membutuhkan biaya pengobatan yang panjang dan mematikan, kanker serviks juga banyak menyerang usia produktif. Hal ini tentu menimbulkan kecemasan tersendiri, khususnya jika yang bersangkutan juga menjadi tulang punggung perekonomian keluarga.

Dokter Spesialis Kandungan, RS Premier Jatinegara, Dr Indrawati Dardiri SPoG menjelaskan kanker serviks disebabkan oleh virus yang datang saat perempuan sering berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seks yang terlalu dini. Kanker ini memang mematikan namun, sedini mungkin bisa dihindari.

"Tidak melakukan hubungan seksual di usia dini juga dapat mencegah kanker serviks. Selain itu, perlu memelihara kesehatan tubuh, rutin melakukan pap smear dan menghentikan kebiasaan merokok," jelas Indrawati, di Jakarta, baru-baru ini.

Menurutnya, deteksi dini dengan melakukan pap smear setiap dua tahun sekali akan mampu mencegah serangan kanker serviks yang tergolong ganas.

"Pertumbuhan sel-sel abnormal menjadi kanker terbilang cukup lama. Oleh karena itu penderita yang berhasil mendeteksinya sejak dini dapat melakukan berbagai tindakan untuk mengatasinya," tambah Indrawati.

Gejala dan pencegahannya

Penyebab kanker serviks yang paling utama disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). Virus ini memiliki lebih dari 100 tipe yang sebagian besar di antaranya tidak berbahaya dan akan hilang dengan sendirinya.

Dari keseluruhan tipe, virus HPV 16 dan 18 tercatat sebagai tipe virus HPV yang paling berbahaya. Hal lain yang dapat menyebabkan kanker serviks adalah sel-sel abnormal pada leher rahim yang bisa tumbuh akibat paparan radiasi atau pencemaran bahan kimia yang terjadi dalam waktu cukup lama.

Indrawati mengungkapkan, ada hubungan antara kebiasaan merokok dan meningkatnya risiko seseorang terjangkit penyakit kanker serviks, salah satunya penelitian dari Karolinska Institut di Swedia yang dipublikasikan di British Journal of Cancer pada 2001.

Terbukti bahwa zat nikotin yang masuk ke dalam darah melalui asap rokok bisa meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi cervical neoplasia atau tumbuhnya sel-sel abnormal pada rahim yang merupakan awal berkembangnya kanker serviks.

Sebagian besar proses terjadinya infeksi berlangsung tanpa gejala. Pada stadium awal tidak tampak adanya gejala yang khas dan biasanya malah tanpa gejala sama sekali.

Gejala biasa dikenali pada stadium lanjut, ketika terjadi perdarahan post coitus, keputihan abnormal, perdarahan sesudah mati haid (menopause) serta keluar cairan abnormal (kekuning-kuningan, berbau dan bercampur darah).

Pencegahan terhadap kanker serviks dapat dilakukan dengan program skrinning dan pemberian vaksinasi. Di negara maju, kasus kanker jenis ini sudah mulai menurun berkat adanya program deteksi dini melalui pap smear.

Vaksin HPV akan diberikan pada perempuan usia 10 hingga 55 tahun melalui suntikan sebanyak tiga kali, yaitu pada bulan ke nol, satu, dan enam. Dari penelitian yang dilakukan, terbukti bahwa respons imun bekerja dua kali lebih tinggi pada remaja putri berusia 10-14 tahun dibanding yang berusia 15-25 tahun.

Tidak berhubungan seksual dengan pria yang sering berganti-ganti pasangan, mencegah hubungan seksual pada usia dini, memelihara kesehatan tubuh, melakukan pap smear secara rutin, dan menghentikan kebiasaan merokok.

Namun itu saja tidak cukup. Memperbanyak konsumsi sayuran berwarna hijau tua dan kuning yang banyak mengandung beta karoten, vitamin C dan E juga merupakan upaya pencegahan terserang kanker serviks. [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.