Rabu, 22 Mei 2013 | 10:03 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Berburu Kenikmatan Bacang di Candra Naya
Headline
ist
Oleh: Dahlia Krisnamurti
gayahidup - Kamis, 21 Juni 2012 | 14:05 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Bacang merupakan makanan khas masyarakat Tionghoa yang populer di tanah air. Makanan yang terbuat dari beras ketan dengan beragam isian itu sudah beradaptasi dengan kebudayaan lokal di Indonesia.

Nah, bagi pecinta bacang, Anda bisa coba mengunjungi gelaran Festival Bacang di Gedung Candra Naya yang merupakan bangunan mixed use Green Central City (GCC), Jakarta Pusat, 22 - 24 Juni 2012.Di sana Anda bisa melihat seperti apa aneka wujud bacang beserta isinya.


Selama berlangsungnya festival di akhir pekan ini, GCC akan memperkenalkan berbagai jenis bacang di Indonesia. Aneka bacang ini bakal didatangkan dari berbagai daerah, baik dari Jakarta, Semarang, dan sejumlah daerah lainnya.

Festival selama tiga hari itu juga akan diramaikan dengan Pameran Perahu Naga, bazar makan an khas kawasan Pecinan, pertunjukan seni dan budaya, dan beragam lomba seperti lomba makan bacang, lomba mendirikan telur, lomba melukis lampion, serta diskusi buku dan demonstrasi memasak bacang.

Chief Operating Officer Green Central City (GCC) Martono Hadipranoto mengatakan pihaknya sangat mendukung dilaksanakannya Festival Bacang di Candra Naya. Dukungan itu sebagai wujud komitmen menghidupkan warisan budaya dan sejarah di bangunan peninggalan abad ke-19 ini.

"GCC ini dibangun dengan komitmen tinggi terhadap peninggalan sejarah. Tujuan festival ini sendiri untuk kembali memperkenalkan acara perayaan Peh Cun," kata Martono.

Berdasarkan keyakinan masyarakat Tionghoa, sambung Martono pada tanggal 5 bulan 5 kalender lunar adalah hari Duan Wu. Di Indonesia, hari tersebut dikenal sebagai Peh Cun yang terkenal dengan makanan bacang.

Pengamat budaya Tionghoa David Kwa menambahkan, bacang dikenal di Indonesia seiring masuknya gelombang pendatang dari daratan Tiongkok, ratusan tahun silam. Membuat dan memakan bacang, kata dia, merupakan bagian dari perayaan Peh Cun atau Duan Wu yang jatuh pada 5 bulan 5 dalam kalender lunar.

Sementara itu, tokoh masyarakat Tionghoa di Jakarta, Hartati Ardiarsa, mengungkapkan, ketika masuk ke Indonesia, budaya China ikut melebur dan mengalami proses akulturasi dengan budaya lokal.

Hartati mengakui, perayaan Peh Cun di Indonesia kini banyak berubah. Meski demikian, hal paling penting adalah bagaimana generasi penerus mampu menjadikan perayaan tradisional itu menjadi sesuatu yang bernilai tinggi. [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.