Jumat, 24 Mei 2013 | 18:43 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Bernostalgia dengan Jajanan Jadul
Headline
IST
Oleh: Santi Andriani
gayahidup - Kamis, 7 Juni 2012 | 17:15 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta- Pembaca tentu setuju kalau masing-masing kita pasti memiliki jajanan favorit ketika masih kecil dulu, saya mau menyebutnya sebagai jajanan jaman dulu alias jadul.

Tak banyak kini dari jajanan-jajanan itu mudah kita temui di lingkungan tempat kita tinggal, walau memang di antaranya masih ada namun tidak dijajakan secara berkeliling semudah kita dulu memanggil dan menghentikan ‘si abang’ penjual untuk membelinya.

Karenanya saya ingin mengajak sebentar untuk mengenang kembali beberapa jajanan zaman dahulu, membayangkan rasanya untuk yang pertama kalinya. Syukur-syukur kalau tiba-tiba ada ‘si abang’ yang berteriak dari luar rumah menjajakan salah satu di antaranya.

Kue Cubit

Satu-satunya alasan mengapa saya selalu bersedia dibujuk ke puskesmas ketika saya sakit waktu kecil - walaupun saya hafal pada akhirnya pengobatan selalu berakhir pada suntikan jarum - adalah saya akan dibelikan kue cubit oleh orang tua.

Melihat penjaja kue cubit di halaman puskesmas saja sudah membuat wajah saya berbinar-binar dan seperti seketika sembuh semua sakit saya.

Kue cubit, penganan mungil-mungil seukuran genggaman tangan anak kecil selalu menggoda dengan aneka cetakannya, ada yang berbentuk bulan sabit, bunga hingga bulatan biasa. Kue yang adonan utamanya adalah dari campuran susu dan tepung terigu ini paling enak kalau disantap masih hangat.

Bahkan tak jarang saya meminta si abang membuatkan setengah matang di bagian tengahnya untuk bisa saya makan dengan mencolek-colek bagian yang lembek. Dengan taburan mesis atau coklat di tengahnya, membuat kue yang disebut dari Bandung ini semakin nikmat.

Secara umum bahan dasar kue cubit:100 gram tepung terigu;100 gram gula pasir;100 gram mentega cair;3 butir telur ayam (suhu ruang);1/4 sendok teh soda kue;1/2 sendok teh baking powder;1 bungkus vanili bubuk

Kue tete atau kue ape

Sepertinya dulu saya tak pernah mempermasalahkan atau mencari tahu mengapa kue berbentuk pipih agak lebar ini bisa sampai disebut kue tete, walaupun saya tahu apa arti sebenarnya dari nama yang digunakan itu.

Yang saya tahu, bagian berwarna hijau di tengahnya selalu berhasil menggoda saya dan teman-teman untuk membeli kue yang disebut dari Betawi dan dibuat dengan cetakan wajan berukuran kecil ini.

Lebih dari itu, faktanya, selain bagian yang berwarna hijau itu, ternyata bagian pinggirannya yang garing pun mempunyai sensansi kres-kres ketika digigit dan lebih nikmat.

Kue yang berbahan dasar tepung beras, gula, santan ini beruntung masih banyak ditemukan, dan sekarang hadir dalam rasa yang beraneka macam dengan ukuran lebih besar.

Secara umum bahan dasar kue tete:200 g tepung terigu serbaguna; ayak100 g tepung beras, ayak;150 g gula pasir;1/2 sdt garam;1/2 sdt soda kue;3/4 sdt baking powder;1/2 sdt vanili bubuk;600 ml santan dari 1 butir kelapa parut; minyak, untuk olesan

Kue Rangi

Saya setuju dengan pendapat kebanyakan teman, bahwa kue rangi paling pas dinikmati ketika masih panas atau benar-benar baru diangkat dari bakarannya. Kue ini dicetak kecil-kecil saling menempel antara kue satu dan lainnya yang berwarna putih.

Selain masih empuk ketika digigit, lelehan gula Jawa atau aren yang dituangkan di atas kue berbahan dasar sagu dan santan kelapa ini akan menimbulkan sensasi tersendiri di mulut. Sebaliknya, jika sudah dingin, maka kuenya akan alot dan susah untuk digigit.

Zaman dulu kue ini pembuatannya benar-benar dibakar dengan bara arang atau kayu, namun sekarang sudah banyak yang dipanggang dengan kompor.

Namun kue ini termasuk yang jarang ditemui saat ini, kalau pun ada, rasanya saya katakan sudah tidak semantap dulu dan lelehan gulanya pun tak sepekat dan cenderung meninggalkan gatal di tenggorokan.

Secara umum bahan dasar kue rangi: butir kelapa setengah tua, dikupas, diparut untuk mendapatkan santan;100 g ampas kelapa (perasan santan);100 g tepung sagu; garam secukupnya;250 g gula merah;300 ml air;Daun pandan

Kue Pancong

Meskipun ukurannya kecil-kecil dan hampir mirip bentuknya dengan kue rangi, tapi menurut saya kue pancong selalu berhasil membuat perut saya kenyang dengan menyantap hanya 3-4buah.

Biasanya ketika saya belum sempat sarapan pagi saat berangkat sekolah, saya memilih jajan makanan berbahan dasar tepung beras, tepung terigu dan parutan kelapa ini selagi hangat, dan tentunya sesuai dengan uang jajan saya saat itu.

Yang membuat kue ini nikmat tentu adalah taburan gula pasir di atasnya, anak kecil mana yang tidak suka segala yang manis-manis.

Secara umum bahan dasar kue pancong:400 gram tepung beras;100 gram tepung terigu;400 gram parut kelapa;500 ml santan;500 ml air;4 butir telur;2 lembar daun pandan;1 sendok teh garam. [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.