Kamis, 23 Mei 2013 | 20:36 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Pakai Barang 'Palsu' Demi Penampilan
Headline
ist
Oleh: Dahlia Krisnamurti
gayahidup - Kamis, 31 Mei 2012 | 14:05 WIB

INILAH.COM,Jakarta - Dalam dunia fesyen barang kualitas nomor dua (KW) sudah menjadi 'makanan' empuk para penggila mode.

Karenanya, untuk memenuhi hasrat penggila belanja banyak produk fesyen seperti tas, jam, bahkan sepatu yang beredar dipasaran dengan brand yang sama, namun kualitas bebeda alias imitasi.

Namun pernahkan terpikir bahwa menggunakan barang 'palsu' atau KW sama seperti Anda 'membeli' sebuah fesyen?

"Pembelian item fesyen imitasi atau lebih terkenal dengan istilah KW sebagian besar dimaksudkan agar gengsi mereka sama dengan yang mampu membeli tas Asli, tanpa memperdulikan manfaat yang ada," kata Psikolog Universitas Indonesia Tri Suwardhani, saat dihubungi INILAH.COM,Kamis (31/5)

Tri menjelaskan, berbagai barang yang dibeli biasa tidak benar-benar dibutuhkan. Tujuan pembelian barang itu juga hanya untuk gaya-gayaan dan mengangkat derajat dan gengsi si pemiliknya.

"Gaya belanja seperti ini bisa disebut juga sebagai 'konsumsi gengsi'," jelas Tri.

Menurut Tri, lebih baik beli barang asli tapi bukan merk ternama daripada beli barang palsu. Selain tidak ingin membohongi diri, juga dibiasakan agar memiliki budaya tidak terlalu merasa 'branded mind'.

Sementara itu Wakil Direktur Utama Institute of Economics Chinese Academy bagian Ilmu Sosial, Yang Chunxue, mengatakan konsumsi gengsi ini dipicu oleh contoh buruk dari orang-orang sukses yang senang memamerkan harta kekayaan.

Saat ini banyak sekali orang golongan menengah yang bersedia menghabiskan setengah dari gaji bulanan mereka hanya untuk satu pakaian bermerk.

"Yang pasti bukan kabar baik baik ekonomi nasional dalam jangka panjang," kata Yang.

"Pertama, tidak banyak merek lokal yang populer di mata anak muda, sehingga membuat kreatifitas pengusaha lokal menjadi terbatas sehingga akhirnya lebih baik menjadi importir merek-merek luar," katanya.

"Kedua, hal ini bertentangan dengan pemasukan nasional. Konsumsi yang berlebihan tidak hanya mengahambur-hamburkan uang pribadi, tetapi juga uang negara," tambahnya.

Yang setuju moral sosial yang baik adalah kunci menghalau fenomena yang bisa disebut konsumsi gengsi ini juga konsumsi yang berlebihan.

Akan tetapi, menurut pandangan Chun, konsumsi gengsi ini tidak sepenuhnya buruk. Kuncinya adalah mengatur tingkat pengaruhnya. Masyarakat harus tahu barang apa yang mereka butuhkan, dan kenapa mereka harus membeli barang tersebut. [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.