INILAH.COM,Jakarta - Batik telah menjadi salah satu budaya Indonesia yang diakui sebagai warisan budaya dunia oleh organisasi pendidikan dan kebudayaan PBB, UNESCO.
Namun perkembangan teknologi membuat budaya batik terancam dilupakan. Bangsa Indonesia pun dituntut untuk melestarikan budaya batik khususnya para pengrajin batik yang ada di berbagai daerah Indonesia.
Adalah Kecamatan Lasem, Kabutapen Rembang, Jawa Tengah merupakan salah satu sentra pengrajin dan penghasil batik tulis di Indonesia yang sudah terkenal baik di dalam maupun di luar negeri.
Budayawan setempat, Slamet Wijaya mengemukakan batik yang berasal dari Lasem memiliki spesifikasi yang tidak ada duanya di dunia. Bahkan batik Lasem merupakan hasil perpaduan budaya yang bersifat multikultur.
“Ada budaya Jawa, China, Champa, Belanda, dan Islam,” ungkap Slamet. Hasil perpaduan tersebut merupakan andil kedatangan imigran China, Champa, dan Belanda ke Lasem sejak abad ke-14.
Awalnya batik Lasem hanya dipakai oleh orang-orang kalangan elit. Lama kelamaan batik Lasem kemudian merakyat dan diproduksi dalam jumlah banyak pada abad ke-16.
Nah, berawal dari situlah ibu-ibu rumah tangga beberapa desa di Lasem sangat menggantungkan tambahan pendapatan dengan menjadi perajin batik. Biasanya para pengusaha batik menitipkan bahan baku berupa kain untuk dikerjakan para perajin. Perajin hanya mendapatkan jasa membatik sekitar Rp25-35 ribu per hari.
Jika dibandingkan dengan nilai produk yang mereka hasilkan, pendapatan mereka tidak seberapa sehingga sulit untuk membeli bahan baku sendiri.Selain itu keterampilan yang mereka miliki dinilai sangat minim karena pelatihan membatik hanya diajarkan secara turun-temurun.
Untuk menjawab persoalan tersebut, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (Bank BRI) melalui Kantor Cabang Bank BRI Rembang berinisiatif mendirikan Batik Village Areas. Program itu berlokasi di Desa Sumber Girang dan Ngropoh.
Direktur Bisnis UMKM Bank BRI Djarot Kusumayakti mengatakan pendirian Batik Village Areas adalah untuk menjadikan Lasem sebagai gugus ekonomi industri batik.
“Batik Village Areas merupakan rangkaian kegiatan untuk mendidik perajin batik di wilayah Lasem. Kami ingin batik lebih maju lagi terutama di wilayah Lasem,” tutur Djarot dalam acara peresmian Pelatihan Batik Tulis Lasem di Lasem, Rembang beberapa waktu lalu.
Jasa pengusaha dan pola kemitraan
Lebih lanjut Djarot mengungkapkan bahwa niat membuat Batik Village Areas bermula dari niat baik seorang pengusaha batik, bernama Santoso Hartono. Melalui bantuannya, Bank BRI Cabang Rembang bisa merealisasikan program itu.
Sejak September 2010 lalu, Bank BRI bersama Santoso mulai mempersiapkan program Batik Village Areas di Desa Sumber Girang dan Ngropoh. Dengan program tersebut, diharapkan kesejahteraan perajin batik di Lasem akan terangkat.
“Saya dapat untung sedikit tidak apa, yang penting mereka bekerja. Sebagai pengusaha saya tahu kalau upah mereka layak, pekerjaan batik mereka juga memiliki kualitas baik. Kalau upah mereka kecil, mereka akan bekerja tidak rela dan batiknya bisa dikatakan rusak,” ujarnya.
Batik Village Areas menawarkan 4 kegiatan, yaitu pelatihan, perbaikan sarana umum, pameran, dan kemitraan. Pelatihan yang diberikan meliputi tingkat dasar dan lanjutan.
Melalui pelatihan tingkat dasar, perajin batik dapat memiliki keahlian berkualitas. Adapun pelatihan tingkat lanjutan ditujukan agar perajin tidak sekadar menghasilkan batik untuk dijual tetapi juga mempunyai nilai seni yang tinggi.
Peresmian Pelatihan Batik Tulis Lasem telah dilaksanakan pada Februari 2011 lalu. Bank BRI kemudian akan mengikutsertakan produk batik Lasem di pameran-pameran kerajinan khas Indonesia dalam skala nasional maupun internasional. Hal itu untuk mempermudah pemasaran batik Lasem.
Bank BRI melihat kesulitan terbesar para perajin batik adalah tidak memiliki modal kerja yang mencukupi untuk membeli bahan baku batik. Akibatnya mereka hanya mengharapkan imbalan jasa dari pengusaha batik.
Untuk itu Bank BRI khususnya Kantor Cabang Rembang akan menyediakan pinjaman kemitraan maksimal Rp5 juta untuk setiap keluarga pengrajin. Djarot menyebutkan pinjaman kemitraan juga bisa digunakan bagi perajin untuk melakukan usaha lainnya seperti memelihara sapi.
Dalam kemitraan tersebut, Bank BRI Cabang Rembang menggandeng Koperasi Karyawan Batik Tulis Lasem untuk mengumpulkan angsuran setiap harinya dan menyetorkannya kepada Bank BRI setiap bulannya.
Pada kesempatan peresmian Pelatihan Batik Tulis Lasem, Bupati Rembang Mochamad Salim menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Bank BRI atas prakarsa dan upaya dalam pelaksanaan program Batik Village Areas.
"Dengan program tersebut produksi batik Lasem akan meningkat 10%-20% setiap tahunnya seiring peningkatan permintaan," harap Djarot. [Adv]