Kamis, 17 Mei 2012 | 11:42 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Valentine dengan 'Cinta' Klasik ala Nusantara
Headline
Oleh: Dahlia Krisnamurti
gayahidup - Sabtu, 11 Februari 2012 | 12:05 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM,Jakarta - Valentine atau yang sering diungkapkan sebagai hari kasih sayang sering dikaitkan dengan pemberian kado sebagai ungkapan rasa cinta.

Biasanya, kado valentine tersebut tidak terlepas dari cokelat dan bunga serta segala atribut yang berwarna pink.

Namun tahu kah Anda bahwa di Indonesia ini terdapat banyak lambang cinta tradisional yang mungkin dapat digunakan sebagai simbol kado yang unik saat hari kasi sayang itu tiba. Apa saja ?

Kelapa gading

Dalam adat pernikahan Jawa, sepasang cengkir gading (kelapa gading muda) yang masih bersabut wajib ada saat prosesi siraman—upacara pembersihan diri agar suci dan murni. Melambangkan apa sepasang kelapa hijau itu?

Cengkir, oleh masyarakat Jawa diartikan sebagai “kencenging pikir” atau penyatuan pikiran kedua mempelai. Ini merupakan simbol harapan orangtua agar calon mempelai terus bersama, tidak hanya terikat secara simbolis, tapi batin mereka pun menyatu dan bisa saling mencintai selamanya.

Roti buaya

Roti ini bisa kita temukan pada upacara pernikahan dengan adat Betawi, dibawa oleh pengantin laki-laki saat seserahan. Di antara barang seserahan lain, seperti peralatan ibadah, uang mahar, dan perhiasan, roti buaya jadi barang paling penting sebagai lambang kesetiaan.

asyarakat Betawi terinspirasi buaya karena seumur hidupnya, buaya hanya mempunyai satu pasangan. Buaya yang dibawa pengantin laki-laki tersebut berjumlah 2 dengan ukuran berbeda, yang besar melambangkan pengantin laki-laki, sedangkan yang lebih kecil—yang ditumpangkan di atas buaya besar—melambangkan pengantin perempuan.Buaya sebagai simbol kesetiaan, sementara rotinya pun punya makna khusus, melambangkan kemapanan ekonomi.

Cincin meneng

Tradisi memberi cincin memang sudah ada sejak berabad-abad lalu. Sejumlah literatur menyebutkan bahwa pada zaman Romawi Kuno sudah banyak pasangan yang menggunakan lempeng besi sebagai tanda ikatan. Rupanya tradisi ini juga berlaku di masyarakat Sunda.

Dalam acara Narosan atau lamaran, pihak laki-laki umumnya membawa buah tangan, seperti sirih, pakaian perempuan, beuber tameuhikat pinggang perempuan yang biasa dipakai setelah melahirkan—serta cincin meneng, yaitu cincin tanpa sambungan untuk menyimbolkan kasih sayang yang tidak ada putusnya. Tanda cinta ini sekaligus bentuk doa keluarga agar hubungan pasangan langgeng.

Coki

Dalam adat Minangkabau, setelah perempuan dan laki-laki resmi menjadi sepasang suami istri, masih ada serangkaian upacara yang dilakukan. Tapi, ada satu yang melambangkan bentuk cinta pasangan tersebut, yaitu bamain Coki.

Coki adalah permainan tradisional Ranah Minang, semacam permainan catur dengan papan yang menyerupai halma. Permainan Coki dilakukan oleh pasangan pengantin sebagai simbol harapan agar kedua mempelai bisa saling meluluhkan kekakuan dan ego masing-masing agar selalu mesra. (berbagai sumber)

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.