Find and Follow Us

Sabtu, 23 November 2019 | 03:42 WIB

Peduli Lansia Jadi Fokus Kependudukan

Oleh : Dahlia Krisnamurti | Sabtu, 21 Januari 2012 | 09:05 WIB
Peduli Lansia Jadi Fokus Kependudukan
inilah.com/Dok
facebook twitter

INILAH.COM,Jakarta - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sering menawarkan isu menarik tentang "Pemberdayaan Penduduk Lanjut Usia dalam Pembangunan Karakter Bangsa".

Isu ini bahkan sering dijadikan topik seminar BKKBN. Topik yang menarik sebetulnya dalam kondisi penduduk Indonesia yang sudah membengkak di usia lansia. Hal ini didukung oleh perkembangan angka harapan hidup di Indonesia.

Angka harapan hidup penduduk Indonesia (total) yang pada 1980 hanya 52,2 tahun. Dalam perkembangannya, usia harapan hidup penduduk Indonesia (total) terus meningkat.

Pada 1990, usia harapan hidup penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 59,8 tahun, kemudian 63,6 tahun pada 1995, 64,5 tahun pada 2000 dan 67,4 tahun pada 2010 serta dan 71,1 tahun pada 2020.

Hasil Sensus Penduduk 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk lansia Indonesia adalah 18,57 juta jiwa, meningkat sekitar 7,93% dari 2000 yang sebanyak 14,44 juta jiwa.

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Sudibyo Alimoeso mengatakan para lanjut usia (lansia) potensial di Indonesia masih terbilang banyak. Dengan jumlah banyak tersebut para lansia ini bisa di berdayakan tanpa membebani pemerintah.

"Dalam kerangka pengabdian lansia ini, lansia bisa dikembangkan secara individu maupun dalam kelompok-kelompok atau wadah yang mereka inginkan. Karena lansia-lansia yang potensial ini memiliki pengalaman dan kearifan atau kepandaian tertentu yang dimiliki oleh mereka sehingga mereka bisa memilih jalurnya sendiri. Sehingga bisa bermanfaat," kata Sudibyo di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Namun, yang menjadi dilema adalah pada saat ini usia produktif di Indonesia sangat besar dan membutuhkan pekerjaan. Sedangkan lapangan pekerjaan itu tidak seluruhnya bisa menyerap. Karena pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 6,7 persen.

Itu hanya bisa menampung sebanyak dua juta lapangan pekerjaan. Tapi yang masuk angkatan kerja tiap tahun sangat tinggi. "Saya kira pemerintah saat ini, mungkin, karena sibuk dengan pemuda-pemuda produktif yang masuk angkatan kerja ini sehingga akhirnya lansia belum mendapatkan prioritas atau tempat sebagaimana mestinya," katanya.

Diperkirakan jumlah penduduk lansia di Indonesia akan terus bertambah sekitar 450.000 jiwa per tahun. Dengan demiian, pada 2025 jumlah penduduk lansia di Indonesia akan berjumlah sekitar 34,22 juta jiwa (BPS 2010).

Kondisi ini dikhawatirkan akan membuat angka beban ketergantungan (dependency ratio) semakin besar. Hal ini menjadikan Indonesia terancam triple burden berupa jumlah kelahiran bayi yang masih tinggi, masih dominannya penduduk muda, dan jumlah lansia yang terus meningkat.

Nah, keadaan ini apabila tidak segera dicarikan solusi agar lansia tetap produkstif, tidak mustahil akan menjadi persoalan bangsa dan negara. Dan, sangatlah tidak manusiawi bila mereka diperlakukan sebagai warga kelas dua atau ibarat "habis manis sepah dibuang".

Karenanya, sambung Sudibyo, dalam menangani lansia ini pihaknya akan mencoba mempelajari agar kita harus mempunyai langkah-langkah yang konkrit apa yang seharusnya dilakukan BKKBN terhadap lansia ini.

"Jika misalnya kita ada perkembangan mengenai lansia yang ada selama ini, sebetulnya BKKBN bisa masuk ke dalam model-model pemberdayaan lansia," sambungnya.

Setelah itu, model-model ini akan dikembangkan di setiap provinsi. Tapi sebelumnya lansia ini akan diberdayakan dahulu, kemudian diberikan contoh konkrit pemberdayaan lansia yang ada. "Para lansia seperti ini akan menjadi percontohan di tiap provinsi," ungkap Sudibyo.

Secara yuridis formal, ketentuan untuk memenuhi hak lansia diatur dalam Pasal 42 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang menyatakan bahwa setiap warga negara yang berusia lanjut, cacat fisik, dan atau cacat mental berhak memperoleh perawatan dan bantuan khusus atas biaya negara untuk menjamin kehidupan yang layak sesuai dengan martabat kemanusiaannya, meningkatkan rasa percaya diri, dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.

BKKBN sebagai lembaga yang mengemban tugas untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera, telah berkali ulang menawarkan ide tentang program penggarapan lansia melalui kegiatan Bina Keluarga lansia.

Karena dengan menghormati, menghargai dan menjunjung martabat lansia sebagai anggota keluarga sejajar, merupakan salah satu wujud nyata bentuk "keluarga sejahtera".

Komentar

Embed Widget
x