Find and Follow Us

Rabu, 22 Mei 2019 | 23:56 WIB

Lampu Terang Saat Tidur Picu Sel Kanker?

Oleh : Dahlia Krisnamurti | Kamis, 3 November 2011 | 11:14 WIB
Lampu Terang Saat Tidur Picu Sel Kanker?
medicmagic.com

INILAH.COM, Jakarta - Beberapa ilmuwan menyebutkan terlalu banyak lampu menyala saat malam hari berpengaruh terhadap kanker payudara. Benarkah?

Seperti dilansir Dailymail, dalam sebuah studi oleh National Cancer Institute (NCI) Amerika, seorang ahli mengemukakan disaat riwayat keluarga, kebiasaan merokok, minum alkohol, dan diet yang buruk menjadi faktor risiko utama yang mempengaruhi kanker payudara.

Selain itu terpapar sinar listrik (lampu) yang berlebihan (terlalu terang) sepanjang jam malam ternyata dapat juga mengurangi daya tahan tubuh terhadap penyakit tersebut.

Cahaya pada malam hari bertentangan dengan produksi "hormon kegelapan" alias melatonin dalam tubuh yang merupakan pertahanan alami tubuh melawan penyakit kanker.

Melatonin merupakan hormon yang diproduksi oleh kelenjar pineal, kelenjar seukuran kacang polong tepat di bawah pusat otak, yang merespon terhadap gelap.

Hormon ini juga merupakan antioksidan yang kuat yang diklaim dapat menekan pertumbuhan sejumlah tipe sel kanker, terutama ketika dikombinasikan dengan obat-obatan anti-kanker tertentu.

Selain itu, melatonin juga menstimulasi tipe sel darah putih dikenal sebagai sel pembunuh yang menyerang tumor. Ini berarti kemungkinan bukan cuma kanker payudara yang dapat terpengaruh terhadap kegelapan.

Peneliti dari Universitas Haifa di Israel menunjukan negara dengan tingkat cahaya lampu jalan yang terang memiliki angka kanker prostat yang tinggi.

Menurut peneliti tersebut paparan yang berlebihan dari penggunaan lampu tambahan tersebut tidak hanya menekan produksi melatonin tetapi juga melemahkan sistem kekebalan dan mengganggu jam biologis tubuh, kesemuanya dapat mengurangi pertahanan tubuh terhadap kanker prostat.

"Bukan berarti kita harus kembali pada zaman pertengahan dan mematikan semua lampu, namun hubungan tersebut harus menjadi salah satu pertimbangan dalam merencanakan kebijakan energi," pungkas pemimpin studi, Professor Abraham Aim. [mor]

Komentar

Embed Widget
x