Kamis, 24 April 2014 | 00:23 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Belanja, Agenda Utama ke Bandung
Headline
ist
Oleh: Abriansyah
gayahidup - Sabtu, 9 Februari 2008 | 10:01 WIB
INILAH.COM. Bandung - Kota Bandung adalah kota akhir pekan buat sebagian warga Jakarta. Keberadaan jalan tol Cipularang yang menghubungkan Jakarta-Bandung dalam tempo dua jam jadi penopang. Berbelanja di Kota Kembang yang kian padat pun acap dijadikan agenda utama.
Salah satu daya tarik orang mengunjungi Kota Bandung adalah banyaknya factory outlet (FO) yang menjual beragam busana.
Hampir di semua kawasan belanja Kota Bandung dipenuhi hamparan FO. Beragam pakaian dengan motif dan desain yang bervariasi dijajakan. Sebutlah di kawasan Setiabudi, Sukajadi, Dr Otten, Dago, Cihampelas, dan Jalan Riau.
Sebenarnya, dari segi harga, ragam busana yang dijual di FO ini tidak lebih murah dibandingkan harga di toko-toko Kota Jakarta. Tapi, selain memuaskan kebutuhan rekreasi, pakaian yang dijual di FO Kota Bandung memang lebih modis dan variatif.
Belum lagi upaya pemilik FO di Bandung yang kreatif menata tokonya. Agar memikat para pengunjung, pemilik FO di Kota Bandung menata tempat dagangannya dengan apik dan artistik. Artinya, mereka tidak hanya bersaing membuat busana modis dan menarik.
Yang juga unik, kebanyakan FO di Paris van Java ini terletak di kawasan yang semula kawasan permukiman. Misalnya di Jalan H Juanda (Dago), Setiabudi, Sukajadi, Dr Otten, dan Jalan Aceh.
Untuk mencapai Jalan Riau mudah saja. Dari arah Jakarta, setelah melewati tol Cipularang, keluar dari pintu tol Pasteur. Masuk ke Kota Bandung melewati jalan layang Pasupati.
Dari jalan layang ambil arah kanan melewati Jalan Dago. Nah, di perempatan jalan Merdeka, belok ke kiri. Itulah Jalan Riau. Nama resmi jalan ini adalah Jalan Martadinata. Tapi, pamor Jalan Riau ternyata tidak luntur ditelan zaman.
Setiap akhir pekan, harap maklum kalau ruas jalan ini macet luar biasa. Ini gara-gara sulitnya mencari tempat parkir. Maklumlah, Jalan Riau memang tidak didesain untuk pertokoan. Bangunan-bangunan yang sekarang jadi FO itu semula adalah rumah tinggal biasa.
Di Jalan Cihampelas yang terkenal dengan ragam jinsnya, kemacetan akhir pekan juga sudah menjadi pemandangan biasa. Kawasan ini sebenarnya bukan dikenal sebagai kawasan FO. Tapi, Cihampelas dengan koleksi jinsnya tetap memikat pengunjung Kota Bandung. Apalagi, kini ada pertokoan Cihampelas Walk (Ciwalk) dengan konsep bangunan yang khas.
Selain belanja di FO, pengunjung Kota Kembang juga bisa bertualang menikmati berbagai produk kreatif anak-anak muda di toko-toko Distro. Distro ini kependekan dari distributor store. Menariknya, pakaian yang dijual di distro diproduksi dalam jumlah yang sangat terbatas sehingga pemakai baju itu memiliki kebanggaan sendiri.
Buat yang berkantong pas-pasan, Bandung menyediakan Cimol. Ya, baju impor bekas yang dibeli dari kawasan Jalan Cibadak, Bandung. Saking murahnya, dengan uang lima ribu rupiah di tangan pun sudah bisa membawa pulang sepotong baju. Dijamin layak pakai, bahkan mengundang lirikan orang. Sebab, modelnya tidak pasaran.
Tentu, semua itu hanya bisa diperoleh dengan perjuangan yang lumayan memeras keringat. Adu tawar yang alot, perburuan dari jongko ke jongko, ditambah adu senggol sesama hunter. Maklum, tempatnya sesak.
Tapi, itu dulu, pada 1980-an. Demam Cimol alias Cibadak Mal sempat melanda Kota Bandung dengan begitu hebatnya. Pengunjungnya bukan hanya orang Bandung. Pengunjung dari luar kota, terutama dari Jakarta, pun ikut berdesakan.
Untuk mengembalikan kenyamanan Jalan Cibadak dan Jalan Otista, Cimol pindah ke daerah lapangan Tegallega. Sekarang berada di kawasan Pasar Gede Bage, Bandung, dengan areal yang lebih luas. Lebih teratur dan makin beragam barang yang dijual.
Menurut Aceng Eno, Ketua Gabungan Pengusaha Kecil dan Jasa (Gapensa), pada 1998 warga di sekitar Jalan Cibadak protes agar Cimol dipindahkan. September 1998, Cimol pindah ke daerah Kebon Kalapa. Tapi, karena lokasinya kurang strategis, pada 2001 Cimol beralih lokasi lagi ke Lapangan Tegallega.
Atas kebijakan Pemerintah Kota Bandung, Juli 2004, Pemkot menyediakan lahan seluas 30.000 meter persegi di Pasar Gedebage.
"Karena akan ada 50 Tahun Konferensi Asia Afrika pada 2005, Pemkot ingin segera menertibkan Lapangan Tegallega. Akhirnya, para pedagang pindah ke Gedebage sampai sekarang. Saat ini, 27.740 m2 telah digunakan untuk Cimol," tutur Aceng.
Harga yang ditawarkan cukup bervariasi dan pastinya murah meriah mengingat target pembeli adalah kalangan menengah ke bawah walaupun kenyataannya yang datang ke Cimol justru dari semua kalangan.
Dengan hanya membawa Rp 100.000 saja sudah bisa mendapatkan kurang lebih 6-7 item. Beda jika berbelanja di toko seperti distro. Duit Rp 100.000 mungkin hanya cukup untuk memboyong satu item.
Umumnya, pakaian yang dijual di Cimol adalah pakaian bekas. Kondisinya? Dijamin masih tetap layak pakai. Syaratnya, teliti memeriksa sebelum memutuskan beli. [L1/I3]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER